13. Bangkit

9.7K 953 73
                                        

"Kanker yang berkembang di otak kamu mulai menyebar. Mengingat penyerbarannya yang sangat capat, seharusnya kita cepat mengambil tindakan."

Alka menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa begitu berat terangkat untuk membiarkan paru-parunya terisi oksigen.

"Masih sanggup saya lanjutkan?" tanya Danang saat melihat wajah pias Alka.

Alka mengangguk samar. Mencoba menarik sebuah senyuman. Namun, gagal. Bibirnya hanya mampu berkedut.

Danang menghela napas panjang. Hal inilah yang selalu berhasil membuat lelaki itu semakin tegang.

"Saya sudah bilang, seharusnya kamu datang bersama orang tua kamu," ujar Danang.

Orang tua. Mendengar kata itu Alka menunduk. Bukankah ia tak lagi memiliki orang tua? Lalu bagaimana dengan kakak satu-satunya? Bukankah hanya Alan yang ia punya saat ini dalam hidupnya?

Alka menggeleng. Ia tak mau melibatkan kakaknya dalam masalah ini. Ia sudah terlalu banyak melibatkan perasaan Alan dalam hubungannya dengan Nina. Bagaimana perasaan sang kakak jika dirinya tahu bahwa penyakit mematikan ini bersarang di tubuhnya? Jelas, Alka tak ingin kakaknya tersakiti oleh kenyataan ini.

"Saya tak punya orang tua," jawab Alka, lihir. Setelah beberapa saat memilih menjadi pendengar yang baik, akhirnya sebuah suara keluar dari bibir tipisnya yang bergetar.

"Ibu dan kakakmu?" tanya Danang seakan ragu oleh tutur Alka.

"Bisakah Anda melanjutkan penjelasan yang seharusnya saya dengar?" Alka mencoba mengalihkan pembicaraan. Tak peduli dirinya harus kembali bersusah payah menahan tubuh yang bergetar usai mendengar fakta mengerikan penyakitnya, tetapi itu jauh lebih baik dari pada membuka luka tiap kali membahas sosok yang ia anggap ibu itu.

Danang mengangguk paham. Mungkin remaja bersergam putih abu-abu di depannya ini tak dapat membahas lebih jauh tentang keluarganya.

"Stadium 2 mungkin masih dapat tertangani tapi jika sudah berlanjut ke stadium 3, kemungkinan sembuh total kian tipis. Gejala terparah saat memasuki stadium 3 ini biasanya kemampuan berpikir akan menurun dan sulit mengingat sesuatu."

Alka terdiam.

"Pikun?" Pikirnya menerawang. Mencoba mengingangat sepotong kejadian yang mungkin menunjukkan gejala itu.

"Motor," monolognya dalam hati. Satu kejadian saat ia lupa pernah meminjamkan motornya pada Randy. Tubuh Alka semakin menegang. Bahkan ini baru memasuki stadium 2, tetapi daya ingatnya sudah mulai menurun.

"Tapi belakangan ini saya sudah mengalami gejalanya, Dok. Mudah lupa," cicitnya.

"Ini sudah menjadi masalah yang serius Al. Kamu harus cepat-cepat mendapat pengobatan. Mungkin sekarang masih hal-hal sepele yang kamu lupakan. Namun nantinya, tetap akan terjadi penurunan daya ingat dengan drastis. Penderita dapat kehilangan sebagian besar ingatannya atau bahkan semuanya."

Dengan susah payah, Alka mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

"Orang cerdas bahkan bisa berubah menjadi bodoh," imbuh Danang.

Alka menggeleng.

Bahkan orang cerdas dapat berubah bodoh? Lalu bagaimana dengan dirinya yang sudah dicap bodoh oleh sosok yang ia anggap ibu? Tidak. Alka belum siap untuk hal itu. Ia belum siap menjadi sosok idiot di mata Nina.

"Jadi, kapan kita dapat memulai pengobatan?" Alka menunduk. Hanya deru napas kasar yang menjadi jawaban atas pertanyaan Danang.

"Kamu bisa menjalani kemoterapi, radioterapi, keduanya--kemoterapi dan radioterapi, atau pembedahan. Namun mengingat bahwa sel kanker yang ada tumbuh di batang otak, hal itu akan mempersulit jalannya pembedahan. Jika terjadi sedikit saja kesalahan, batang otak akan terjadi kecacatan...."

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang