22. Makan Malam

8.3K 1K 147
                                        

"Mas Bro!"

Suara itu terdengar bersamaan dengan kepala yang mengintip dari celah pintu. Alan menghentikan kegiatan membaca. Beralih memandang sang empunya suara yang ia yakini sebagai adiknya.

"PTS udah selesai masih aja belajar?" Alka melangkah masuk seraya bertanya demikian.

"Ck, emang belajar cuma mau buat penilaian?" tanya balik sang kakak.

Alka terkekeh. Melompat riang ke atas ranjang hingga menghasilkan getaran.

"Rusak anjir!"

Alka tak peduli. Ia mengamati wajah sang kakak yang berkerut kesal.

"Uluh-uluh... marahan amat jadi orang. Ntar cepet tua lho," goda Alka.

"Bodo," jawab Alan, ketus.

Hening sesaat. Hanya terdengar embusan napas keduanya sebelum akhirnya Alka kembali terkekeh.

"Kak?" panggilnya.

"Hm?"

"Nilai PTS gue tertinggi di kelas, percaya?" Alka tampak antusis hingga menyingkirkan buku yang tengah dibaca sang kakak.

"Nggak."

Alka mencebik mendengar jawaban itu.

"Emang gue segoblok itu ya? Sampai lo juga nggak percaya."

Alan terdiam. Memandang wajah sang adik yang terlihat lucu kemudian mengacak rambutnya gemas.

"Ck, lo kek gitu nggak kerasa manis, tapi gue malah merasa kek anjing," tanggap Alka. Tak suka dengan cara sang kakak mengacak rambutnya.

Alan tertawa ringan. Kemudian menatap sepasang mata panda adiknya dalam. "Al, kok gue suka mata lo ya?" gumamnya tiba-tiba.

"Sumpah! Ini udah melenceng jauh dari pembicaraan! Gue ke sini cuma mau kasih kabar itu, nilai gue naik Kak, berkat lo," ujar Alka sedikit kesal.

Alan terkekeh. "Iya, iya. Gue dengar."

"Lo percaya?" Alka menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa nggak?"

Alka tersenyum senang.

"Kak?" panggilnya, lagi.

"Apa lagi? Lo ganggu orang belajar aja," sentak Alan.

"Traktir," pinta Alka dengan polosnya. Lelako manis itu menampilkan deretan giginya yang tak tersusun rapi.

"Ck, yang dapet nilai bagus siapa? Kok jadi gue yang traktir?"

"Lo 'kan abang. Traktir ya? Udah lama kita nggak makan di luar. Iya 'kan?"

Alan berpikir sejenak. Terpecah saat terdengar suara bel dari lantai dasar. "Bukain pintu, gih!" perintahnya.

"Tapi abis itu traktir ya?"

Bel kembali terdengar.

"Buka dulu!" tegas Alan tanpa mau dibantah.

"Iya, iya." Alka mendumel tak jelas. Lelaki itu keluar dari kamar sang kakak. Dengan cepat menuruni tangga dan membuka pintu utama rumah itu.

"Bunda?" Alka sedikit terkejut saat mendapati wanita itu berdiri di depan pintu. Pasalnya, ini masih jam tujuh malam. Tidak biasanya wanita itu pulang secepat ini.

Nina tak menghiraukan seorang yang berdiri di depannya itu. Kakinya memilih untuk melangkah meninggalkan Alka yang masih berdiri di tempatnya.

"Tumben pulang cepet, Bun?" tanya Alka sekadar berbasa-basi. Namun, tak terdengar jawaban dari sosok yang dipanggilnya bunda. Hanya suara sepatu yang terdengar bergesekan dengan lantai keramik.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang