Rain tak dapat menjabarkan bagaimana senangnya ia. Saat pagi itu sosok tampan berdiri di ambang pintu kelas dan menyebut namanya. Bibir merahnya masih setia membentuk sebuah senyum. Ingin rasanya ia melompat-lompat girang. Namun, dirinya sadar jika keadaan kelas kini telah ramai. Mengingat jam pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai.
"Siapa Rain?" tanya Nabila.
Rain tak menjawab. Gadis bersurai sepunggung itu justru tersenyum semakin lebar. Mengendus aroma parfum maskulin dari amplop yang ia genggam.
"Andai kalo ini surat cinta," gumamnya.
Nabila menyenggol bahu gadis itu. Membuat Rain tersentak saat dengan terpaksa, pikirnya kembali ke alam nyata. "Eh? Lo nanya apa tadi?"
"Yang ngasih surat itu, siapa Rain?" ulang Nabila.
"Oh, dia kakaknya Alka," jawab Rain apa adanya.
"Surat apaan?" tanya Nabila, lagi.
"Surat ijin. Katanya Alka sakit. Nggak masuk sekolah hari ini." Rain berjalan ke meja guru. Walau terasa berat melepas surat yang telah beraroma tubuh lelaki tampan itu, tetapi ia tetap meletakkannya di atas meja. Rain mendesah. Kemudian hidungnya tergerak mencium telapak tangannya.
"Masih bau parfum Kak Alan!" Hatinya bersorak riang.
***
Alan memandang tubuh adiknya yang tertutup selimut tebal. Ia mengembuskan napas perlahan. Kemudian bergerak mendekati sang adik yang tengah meringkuk di kasurnya.
"Al," panggilnya. Tangannya tergerak untuk menyentuh kening sang adik. Namun dengan cepat, Alka menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas kepala.
Bohong jika Alan tak khawatir saat ini. Saat melihat adiknya hanya berbaring di ramjangnya setelah dua hari yang lalu ia menemukan Alka pingsan di depan kamar sang Ibu.
"Makan, gih," titahnya.
"Nanti," jawab Alka, lirih.
"Dah malam. Makan dulu, ntar baru istirahat lagi," desak Alan.
Tak terdengar jawaban dari lelaki yang lebih muda darinya itu.
"Mau gue bawain ke sini?" tawar Alan.
"Nggak usah. Nanti gue ambil sendiri," jawab Alka.
Alan mendesah. Terakhir kali ia melihat Alka turun ke dapur untuk mengambil segelas air pagi tadi. Namun, tubuh kecil adiknya hampir saja tumbang saat itu, jika saja ia tak segera menahannya.
"Ke dokter yuk? Atau mau gue panggilin?"
"Nggak usah," tolak Alka.
Alan menyerah. Ia memilih merebahkan diri di samping sang adik. Sepasang matanya memandang langit-langit. Sedangkan bibirnya kembali bersuara, "Cek kesehatan lagi yuk Al? Gue belum puas kalo belum liat hasilnya sendiri."
"Nggak usah. Gue nggak pa-pa," tolak Alka.
"Kalo gue nggak percaya?"
"Gue nggak maksa lo harus percaya," jawab Alka.
Alan mengembuskan napasnya kasar.
"Al, jangan kek gini lagi. Gue khawatir," pesan Alan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomanceCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
