Hanya ada satu remaja di koridor yang sepi itu. Deruan napas kasar menjadi teman setianya kala air bening tak juga berniat berhenti mengalir dari sudut matanya.
Alan kembali mengusap wajahnya. Mengacak rambutnya, bahkan sesekali menggigit jarinya. Entah kapan terakhir dirinya melakukan hal itu, Alan tak berniat memikirkannya. Pikirnya hanya terfokus pada satu hal kini, yaitu sang adik yang tengah berjuang di dalam sana. Sendiri, dan lagi, tanpa dirinya.
Tak sempat menghitung waktu, tetapi sang kakak itu yakin jika dirinya berada di tempat ini--bersandar pada dinding, meluruhkan tubuhnya di lantai, dan memeluk kedua lututnya--tak lagi dapat dihitung oleh detik.
Sepasang mata mirip sang ibu itu kembali memandang pintu UGD. Berharap seseorang keluar dari ruangan itu dan mengatakan bahwa adiknya baik-baik saja, Alka baik-baik saja. Seperti yang sering sang adik itu katakan.
Alan kembali menunduk. Batinnya tak henti-henti merapalkan doa kala bibirnya tak lagi mampu bergeter hanya untuk melakukan hal itu. Hingga seorang yang ia tunggu keluar dari dalam ruang itu.
Alan berusaha menegakkan tubuhnya, meski entah sejak kapan kaki-kakinya terasa tak mampu menopang berat tubuhnya. Pandangnya terpusat pada pria dewasa yang kini berada di hadapannya.
"Al...." Bahkan hanya untuk menanyakan kabar sang adik, lidahnya terasa kelu.
Sudut bibir Danang terangkat meski wajahnya tampak lelah. "Setidaknya, Alka masih mau berjuang untuk saat ini."
Alan dapat mengembuskan napasnya. Mengudarakan sesak yang sedari tadi menghimpit dadanya. Ia kembali menatap Danang. Meminta penjelasan lebih agar dirinya merasa tenang.
Danang menghela napas sejenak. Kemudian merangkul remaja yang masih bertahan dalam kebisuan. "Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan jika kamu mau mendengarnya," jeda sesaat saat Danang menarik napasnya, "ingin berbicara di ruangan saya?"
Tak terdengar jawaban dari sang kakak. Ia malah kembali melempar pandangan ke arah pintu UGD.
"Sudah ada beberapa suster yang menjaga Alka. Mari ikut saya, ada hal penting yang ingin saya bicarakan," tutur Danang.
Alan mengembuskan napas kasar. Mengusap jejak air matanya, kemudian dengan berat hati mengikuti langkah pria paruh baya itu.
***
Sinar matahari yang memaksa masuk melalui celah gorden berhasil mengusik tidur wanita itu. Nina mendesah saat kepalanya masih terasa berat terangkat. Ia mencoba untuk bangun. Menyandarkan punggungnya di kepala kasur sembari memijat pelipis.
Sepi. Hal itulah yang ia dapati kala ini. Padahal dalam hati, ia berharap jika sang putra masih berada di sisinya saat matanya terbuka. Namun, pupus. Saat tak ada sesosok pun orang di dalam sana kecuali dirinya.
"Al... Alan...," panggilnya. Namun, tetap sama. Pintu kamarnya masih tertutup rapat. Tak ada satu pun sosok yang muncul dari balik pintu itu.
"Alka nunggu di ruang tengah. Kalo Bunda butuh apa-apa, tinggal panggil aja."
Ah, sial. Mengapa malah suara itu yang terngiang di benaknya?
Apakah sedikit hatinya berharap bahwa sosok itu muncul dari balik pintu? Membawa secangkir teh hangat kesukaannya.
Nina menggeleng. Tangannya mencoba meraih gelas yang terletak di atas nakas.
Kosong. Ia kembali mendesah saat gelas kaca itu tak lagi berisi. Tak ada pilihan lain selain dirinya turun dari ranjang. Berjalan perlahan menuju dapur untuk mengisi gelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomanceCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
