11. Luka Baru

11K 1K 119
                                        

Telapak tangan dingin itu menggenggam semakin erat kertas putih yang telah lusuh. Sepasang matanya masih menyelisik aksara yang tersusun rapi di atas kertas. Dibacanya berulang kali kalimat-kalimat itu. Berharap jika rangkain kata dalam sana akan berubah. Namun, nihil. Berapa kali pun kata-kata itu ia baca ulang, hasilnya tetap sama seperti pertama kali ia membacanya.

Jujur, Alka menyesal telah mendesak Danang untuk mengatakan hal itu kepadanya. Seandainya ia menurut, mungkin kenyataan pahit ini tak akan pernah ia dengar.

Dialog beberapa saat yang lalu masih tersimpan apik dalam memorinya. Bahkan, ia masih ingat dengan jelas tiap tarikan napas berat Danang dalam menjeda kalimatnya.

Kanker otak stadium dua.

Alka merasa hatinya kembali ngilu mengingat kalimat itu. Dadanya kembali terasa sesak. Lelaki itu membungkukkan diri. Meletakkan kedua telapak tangannya di atas lutut sebagai tumpuan.

Bohong jika ia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja saat ini. Nyatanya, wajah putihnya kini tampak pucat. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Tubuhnya bergetar hebat. Hampir saja tubuh itu meluruh saat lututnya yang turut bergetar tak lagi mampu menjadi tumpuan. Kakinya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Hanya sebuah lengan yang kini berusaha membuatnya tetap berdiri.

"Kamu nggak pa-pa?" Suara pemilik lengan itu. Namun, Alka seakan tuli. Pikirnya masih terfokus pada kenyataan yang belum dapat ia terima.

Seorang pemilik lengan itu menuntunnya duduk di kursi terdekat. Wajahnya tampak khawatir saat melihat keadaan Alka saat ini. Wajah sepucat kertas yang ia genggam, pandangannya kosong, keringat dingin mengucur deras, ditambah dengan mulut bungkam meski orang itu telah melempar sebuah pertanyaan.

Tak tahu kalimat apa yang pantas ia ucapkan, orang itu hanya menyodorkan sebotol air mineral pada Alka. Namun, lelaki tu tetap bertahan pada posisinya. Bergeming dengan tubuh yang masih bergetar hebat.

***

Rain hendak kembali mengambil selembar kertas kosong, tetapi gerakannya terhenti kala sebuah tepukan kasar mendarat di punggung tangannya.

"Aw! Sakit Kak!" Rain meringis sembari mengusap punggung tangannya.

"Jangan boros-boros kertas! Jumlah pohon bahan baku kertas itu semakin menipis," nasihat Irene.

Rain mendengkus kesal.

"Corat-coretan Rain kurang. Terus mau corat-coret di mana kalo nggak di kertas? Di muka Kakak?"

"Eh, adek gue yang cantik, tapi lebih cantikan gue, kalo ngomong mulut tuh dijaga! Salah siapa ngerjain satu soal aja nggak kelar-kelar. Punya otak tuh yang GGGG dong!"

"Sumpah lo kakak paling ngeselin!"

Alan menggeleng mendengar perdepatan antara kakak-adik itu. Sudah dipastikan jika keduanya telah mengubah panggilan menjadi lo-gue, sebentar lagi perang dunia ketiga akan pecah.

"Lo itu adek paling...."

"Udahan napa sih? Masalah gitu aja dibesar-besarin," potong Alan. Mencoba menengahi perdebatan itu.

Irene bungkam. Jika kekasihnya ini sudah turun tangan, ia hanya bisa melipat kedua lengannya di depan dada dan membuang muka.

"Kalo aja gue punya kakak yang otaknya GGGG, pasti gue juga nggak akan ngabisin corat-coret sebanyak ini." Rain tetap membela diri.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang