Alka mengembangkan senyumnya tatkala kakinya kembali menapak di lantai keramik itu. Matanya menyapu tiap penjuru yang ia mampu jangkau. Seolah tengah mencari suatu hal di tempat itu.
"Lo naik dulu, istirahat. Gue ke belakang sebentar, ntar nyusul." Tak mengindahkan apa yang sang kakak katakan, Alka justru mengambil langkah mendekat sofa. Mendudukkan dirinya di sana.
"Gue tunggu di sini dulu," ujarnya.
"Naik dulu elah. Kamar lo yang sebelah kiri," titah Alan.
"Bentar."
Ingin rasanya Alan menarik sang adik. Menuntunnya ke kamar sekarang juga. Namun, hasrat untuk ke toilet lebih mendesak. "Oke. Lo tunggu bentar."
Alan beranjak meninggalkan Alka yang masih setia mengedarkan pandangnya. Hingga sepasang mata itu berhenti saat melihat sosok yang keluar dari kamar.
"Bun... Bunda?" Mata Alka menyipit. Selagi otaknya berusaha mengingat dengan benar sosok yang kini mematung di depan pintu kamar.
"Benar Bunda, kan?" tanyanya seraya beranjak. Memastikan bahwa dirinya masih ingat akan sosok itu.
"Bunda apa kabar?"
Hening. Tak ada jawaban atas pertanyaan itu. Lidah sang bunda seakan kelu untuk menjawab.
Ah, seharusnya ia yang bertanya demikian, bukan? Saat melihat rona pucat di wajah seorang yang berdiri di hadapannya kini.
"Bunda?"
Masih dalam diam, Nina merasa tubuhnya mulai bergetar. Ingin rasanya ia memeluk sosok itu, tetapi tubuhnya membeku.
"Bunda, Alka minta maaf," ujarnya. Alka tersenyum, tipis. Puas setelah berhasil mengatakan hal itu meski tak mendapat respon dari sang bunda. Setidaknya, Tuhan mengabulkan permintaannya saat itu. Ia bisa kembali bangun. Tuhan memberinya waktu untuk mengucap kata "maaf" itu.
"Al?" Alan menepuk pundak sang adik. Sejenak, menatap Nina penuh selidik.
"Ke kamar yuk! Dokter Danang bilang, lo masih harus banyak istirahat."
Alka mengangguk. Mendekati wajah sang bunda berniat mengecup pipi putih itu. Namun urung, saat ia sadar bahwa dirinya tak berhak untuk itu. Ia sadar bahwa ia tak bisa berlaku sesuka hatinya. Ia tak ingin kembali membuat sosok ibu itu marah. Ia hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang, jika itu mungkin.
Alan merangkul bahu Alka. Menuntunnya ke kamar untuk beristirahat.
***
Sesak.
Nina berusaha mengambil udara sebanyak yang ia mampu. Wanita itu menepuk dadanya, kasar. Merutuki dirinya yang bodoh. Bodoh karena ia hanya mampu mematung saat bertemu dengan sosok itu. Bodoh karena ia begitu pengecut hingga tak mampu mengucap maaf padanya.
Entah hal bodoh apa lagi yang ingin ia lakukan, kakinya kini malah bergerak menaiki tangga. Berjalan perlahan di belakang kedua kakak adik itu. Berhenti tepat di depan kamar dan mengintip lewat celah pintu yang tak tertutup rapat. Perlahan, cairan bening dari sudut matanya meluruh. Jatuh membasahi kedua pipinya. Sudut bibirnya berkedut saat ia melihat Alan berjalan mendekati pintu. Berharap jika putranya berniat membuka lebar pintu untuk dirinya. Namun salah, pintu itu ia tutup rapat tanpa memedulikan sang ibu yang menangis di depan pintu.
***
"Ijinin Mama ketemu Alka," pintanya dengan suara bergetar.
Lama Nina menunggu si sulung keluar dari kamar sang adik. Mengekorinya dan berakhir dengan percakapan di kamar sang kakak.
"Buat apa?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari pakain yang tengah ia masukkan ke dalam lemari. Sepuluh hari di rumah sakit, Alan tak pernah meninggalkan Alka setelah perdebatan malam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomansaCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
