30. Pengungkapan

11.3K 1.1K 238
                                        

Alka menuruni anak tangga dengan tergesa. Mengambil langkah menuju dapur secepat yang ia mampu. Sepasang matanya menyapu isi ruangan itu. Terhenti saat kedua netranya menangkap sosok yang tengah menyiapkan menu sarapan.

"Ah, Alka bangun kesiangan. Mbok udah buatin bekal buat Bunda?" tanya Alka sembari mendekati wanita itu.

"Bukannya Nyonya dari kemaren belum pulang, Den?" tanya balik Mbok Ijah.

Alka mengerutkan keningnya.

Ah, iya. Ia lupa jika semalam ia ketiduran setelah terlibat dalam dialog sang kakak hingga ia tak sempat menunggu kepulangan sang bunda.

Alka tak menjawab. Rasa khawatir mulai menyelimuti batinnya. Ia beranjak keluar dari dapur. Berniat ke kamar sang kakak. Meminta lelaki tampan itu untuk menghubungi ibunya.

"Baru bangun, Al?" Suara itu terdengar saat lelaki manis itu berniat menaiki tangga.

Alka mendongak. Fokus pada Alan yang telah rapi dengan seragamnya.

"Bunda belum pulang?" Alka berbalik melempar tanya.

Alan mengerutkan keningnya. Berpikir sejenak sebelum akhirnya mengedikkan bahu. "Kemarin bilangnya mau lembur. Mungkin tidur di kantor," jawab sang kakak sembari menuruni tangga. Berniat mendekati sang adik yang masih mematung di tempatnya.

"Udah lo telpon?"

Alan menghela napas," Udah. Tapi nggak aktif," jawabnya, "harusnya lo nggak usah mikirin keadaan orang lain Al, pikirin diri lo sendiri. Gue yakin Mama nggak papa," sambungnya.

"Tapi Kak...."

"Udah," potong Alan, "nanti gue telpon lagi. Mending lo sarapan dulu," titah lelaki itu.

Alka menurut. Mencoba mengenyahkan pikiran buruknya.

***

"Al, kok gue rasa lo sekolah percuma, ya? Udah datang telat, sampe sini juga tidur."

Alka masih mendengar ocehan Farkhan. Namun, lelaki manis itu tak ambil peduli. Masih bertahan dengan posisi kepala yang ia letakkan di atas meja. Toh, tubuhnya benar-benar terasa lemas. Kepalanya begitu berat untuk terangkat.

"Gue antar ke UKS kalo lo sakit, nggak usah dipaksain," tawar Rafa.

Alka masih membisu. Berniat menggelengkan kepalanya, tetapi denyutan itu semakin kuat saat ia bergerak.

"Atau mau gue panggilin kakak lo? Muka lo udah pucet banget kek mayat hidup." Kali ini Farkhan yang menawarkan bantuan. Namun, Alka tetap tak merespon.

"Tidur aja, ntar kalo ada guru, gue bangunin."

Tampaknya saran dari Irfan itulah yang menurutnya terbaik. Entah sejak kapan cowok itu lebih mengerti dirinya.

***

Kak, anter ke RS bentar ya? Mau nebus obat. Gue tunggu di kelas.

Alka menyandarkan punggungnya di dinding setelah mengirim pesan itu pada sang kakak. Matanya bergerak lambat, menyapu seisi kelas yang telah kosong. Beruntung ia berhasil mengusir ketiga sahabatnya dengan alasan ia akan segera rapat Pramuka saat mereka bersikukuh untuk tinggal di dalam kelas setelah jam pelajaan berakhir.

Pening. Rasa itu begitu kentara. Hal itu menjadi alasannya untuk kembali merepoti sang kakak. Ia tak mungkin berkendara dengan keadaan seperti ini.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang