Farkhan menjatuhkan setumpuk buku di meja Alka. "Capek gue lama-lama kek gini. Dah kek kacungnya Irfan!" Lelaki jangkung itu mendengkus.
"Lo bakat kok, Han. Gue salut sama lo," puji Rafa.
Farkhan menyengir. Kemudian dengan kasar, mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Lo juga Al, ngapain sok-sok mau pinjem bukunya Irfan segala." Ia masih menggerutu tak jelas sembari mengeluarkan ponselnya. Alka terkekeh lebar. Tangannya tergerak membuka satu buku di tumpukan paling atas.
"Emang kalo mau berubah itu banyak cobaan, ya? Sabarkanlah hamba Ya Allah," doa Alka.
Farkhan tersenyum miring. "Bisa nyebut juga lo, Al?"
"Jauhkanlah hamba dari godaan syaithan yang terkutuk Ya Allah," doa Alka, lagi.
"Kampret lo!" umpat Farkhan.
Rafa terkekeh. Lelaki itu beralih memandang Irfan yang baru saja datang.
"Baru sampe aja lo?" tanya Farkhan tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Lo cowok bukan, sih? Kebanyakan bacot kek cewek," komentar Rafa.
"Cowok tulen lah! Dari pada diem kek si tembok," sindir Farkhan pada Irfan.
Irfan tak menanggapi. Dengan santai, lelaki itu mendudukkan dirinya di kursi.
"Baca dulu, kalo ada yang nggak ngerti, bisa tanya gue," ujar Irfan pada Alka yang tengah membolak-balikkan lembaran buku.
Alka mengangguk samar.
"Buku dari sekolah aja belum tentu dibaca. Udah sok mau ikutan baca kek gituan," komentar Farkhan, lagi.
"Ya Allah lindungilah hamba dari...."
Farkhan membungkam mulut Alka dengan tangannya. "Nggak usah dilanjutin!"
Alka menepis tangan Farkhan dengan kasar.
"Pulang sekolah gue ke rumah lo, ya, Fan?" Irfan sedikit bingung dengan permintaan Alka. Dua sahabatnya yang lain turut menampilkan raut sama.
"Mau nyalin catatan. Bentar lagi 'kan PTS," tutur Alka menjawab rasa bingung ketiga sahabatnya.
"Cocok tuh! Ntar gue nge-copy punya lo," ujar Farkhan bersemangat. Sedangkan cowok manis itu memutar bola matanya, malas.
***
Dengan langkah gontai, Alka memasuki rumahnya sore itu. Kakinya terasa begitu lemas untuk dipaksanya berjalan. Tubuhnya terasa remuk. Mengisyaratkan betapa lelahnya ia. Padahal di rumah Irfan tadi, ia hanya duduk menyalin catatan yang tak seberapa.
Langkah sepasang kaki itu terhenti saat tubuhnya tak sengaja berpapasan dengan seorang pria berjas putih. Malas untuk berpikir, tetapi ia yakin jika pria paruh baya itu seorang dokter.
"Siapa yang sakit?" tanya Alka pada Alan setelah dokter itu berlalu.
"Mama," jawab Alan singkat.
Dengan kening berkerut--seakan tak percaya, Alka melangkah menuju kamar sang bunda. Lelaki itu berdiri di ambang pintu. Mengamati Nina yang tengah berbaring di ranjangnya.
"Sakit apa?" tanyanya.
"Cuma kecapekan," jawab sang kakak.
Alka mengangguk paham. Lelaki itu hendak masuk ke kamar, tetapi tangan Alan menghentikan langkahnya.
"Mandi dulu sana. Istirahat. Keliatan capek banget tuh muka. Biar gue yang jaga Mama," titah Alan saat melihat gurat kelelahan di wajah sang adik.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomantikCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
