18. Tak Jauh Berbeda

8.5K 943 90
                                        

Alka menarik rambut hitamnya. Mengacaknya kasar saat otaknya tak lagi mau dipaksa berpikir. Terlalu larut memang untuk berhadapan dengan buku saat ini. Mengingat bahwa jarum pendek jam hampir berhenti di angka dua belas.

Alka menggeleng. Bukan. Bukan untuk mengusir rasa kantuk. Melainkan untuk menghilangkan pening yang kini turut mengganggunya. Lagi, Alka menarik rambutnya semakin kuat. Memejamkan matanya, dan meletakkan kepalanya di meja belajar.

Pusing. Rasa itu yang kini mendominasi.

Alka kembali membuka matanya. Berusaha mengangkat kepalanya saat melihat bercak darah di buku yang tengah ia pelajari. Tangannya tergerak untuk menyentuh hidung.

Anyir. Cairan yang sama keluar dari kedua lubang hidungnya.

Satu tangan Alka tergerak mencari botol obatnya di dalam tas. Sedangkan yang lain mencoba untuk menghentikan aliran darah yang masih keluar. Kening Alka berkerut. Saat sakit di kepalanya menghantam lebih keras sedangkan tangannya tak menemukan benda penting yang ia cari. Alka mengedarkan pandangannya. Bahkan pada saat seperti ini, ia masih harus memaksa otaknya mengingat di mana ia meletakkan obat-obatnya.

Alka mencoba bangkit. Terhuyung saat kakinya tergerak mendekati jaket yang tergeletak asal di tempat tidurnya. Secepat yang ia mampu, tangannya merogoh saku jaket itu. Sedikit merasa lega saat sebuah benda tak asing berhasil tertangkap oleh tangannya.

Kosong. Botol itu kosong. Tak tersisa setidaknya satu butir obat untuk meredam sakitnya kini. Alka lupa untuk menebus obatnya sore tadi.

"Aargh...." Alka mengerang. Menggigit daging dalam bibirnya saat mual turut mendesak. Menggapai apapun yang dapat menjadi pegangan, Alka menyeret kedua kakinya menuju kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya yang tak seberapa di wastafel.

Deru napas kasar terdengar mendominasi. Walau masih terdengar benda cair yang keluar dari perutnya. Tubuh Alka perlahan meluruh saat kedua kakinya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Bersandar pada dinding, ia menarik kedua kakinya. Memeluknya erat. Dan menenggelamkan kepalanya yang terasa berat di lututnya.

"Sak-it...." Alka mengangkat kepalanya. Membenturkannya ke dinding saat organ itu terasa akan pecah. Ia tak menyangka jika akan sesakit ini hanya karena melupakan sebutir obat. Dan sepertinya, malam ini akan ia habiskan di kamar mandi. Meredam rasa sakitnya yang entah kapan akan menghilang dengan sendirinya.

***

"Jadi, kapan akan memulai pengobatan?"

Alka tersenyum, lagi. Entah untuk yang keberapa kali. Lelaki itu sangat berbeda dengan dirinya pada kali terakhir bertemu dengan Danang.

"Nanti saya pikir lagi," jawab lelaki itu, santai. Sedangkan sang dokter tampak lebih khawatir.

"Al, kamu tau jika ini bukan sakit biasa. Bukan seperti pilek yang bisa sembuh dengan sendirinya."

"Saya tahu. Anda telah memberikan penjelasan pada saya," jawab lelaki itu seraya memasukkan obatnya.

"Beri tahu wali kamu. Atau saya yang akan memberitahukannya," ancam pria paruh baya itu.

"Nanti. Saat waktunya tepat." Lelaki manis itu kembali tersenyum, tipis untuk kali ini.

"Sampai kapan?"

Alka mengernyit.

Bukan. Bukan karena memikirkan hal itu. Melainkan memikirkan kepedulian Danang yang melebihi kepedulian dirinya sendiri.

"Kenapa...." Alka menggantungkan kalimatnya.

"Kenapa apa?" tanya Danang.

"Kenapa Anda begitu peduli pada saya?" lanjut Alka.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang