20. Sayang Kak Alan

9.2K 975 79
                                        

"Tiga puluh tujuh! Tuh, emang jawabnya itu B!"

Alka mendengkus. Lelah akan Irfan yang memakunya dengan satu soal fisika. Membuatnya terkurung dalam kelas ditemani penjelasan panjang lebar yang membuat kepalanya pening.

"Mau dihitung berapa kali pun, ketemunya tetep tiga puluh tujuh!" Irfan masih bersikukuh. Sedangkan Alka kini tak lagi antusias. Hanya karena satu soal itu ia telah membuang waktu istirahatnya dengan mendekam di dalam kelas. Berdebat dengan si pemilik otak encer yang masih belum bisa menerima nilai ulangan fisikanya di bawah Alka.

"Udah gue jelasin tadi, fisika itu ada kalanya pake logika, bukan cuma itung-itung kek MTK." Alka mengusap belakang kepalanya, kasar.

"Tapi nggak bisa gitu Al, kalo itungnya pake rumus, ketemunya tetep B!" Tangan Irfan berniat untuk kembali mengambil kertas corat-coret. Dengan cepat, Alka menahannya.

"Udah, gue pusing dengerin penjelasan lo. Serah lo aja," ujar lelaki manis itu.

Irfan mendengkus kesal. Ia merapikan buku catatan fisikanya sebelum memutuskan pergi menyusul kedua kawannya ke kantin. "Gue nyusul Farkhan ama Rafa," pamitnya.

Tak ada tespon dari Alka. Lelaki itu telah mengubah posisi duduknya. Melipat kedua lengannya dan menyembunyikan wajahnya di sana.

Alka mengembuskan napasnya kasar. Sejenak, berusaha menyapu setiap titik kelas yang kosong. Namun, gagal. Kepalanya terasa berat untuk terangkat. Hanya tangannya yang masih mampu tergerak mencari botol obat di saku celananya. Menelan sebutir benda pahit itu setelah ia temukan.

Alka memejamkan matanya, erat. Membiarkan obat itu bereaksi meredam rasa sakitnya.

Alka menghela napasnya, lelah.

"Kok lama-lama otak gue manja ya? Nggak mau diajak mikir," batinnya, perih.

***

"Aden, kalo ngepel itu mundur, bukannya maju."

Alka sontak menghentikan kegiatan kala suara milik Mbok Ijah mengalun sampai di telinganya. "Kok, sih? Hidup itu semakin ke depan, bukannya ke belakang," bantahnya.

Mbok Ijah mengembuskan napas kasar. "Aden, kalo ngepelnya maju, yang ada lantainya kotor lagi kena jejak Aden."

Alka terdiam cukup lama. Mengamati bekas alas kakinya di lantai kemudian terkekeh sembari mengusap tengkuknya. "Eh, pantesan dari tadi nggak bersih-bersih."

Mbok Ijah menggelengkan kepalanya sembari berjalan mendekati lelaki manis itu. "Sini, biar Mbok yang nyelesain." Mbok Ijah hendak mengambil alih pel tetapi Alka segera menjauhkannya.

"Biar Alka aja. Kasian Mbok, yang ngotorin lantai juga Al, Kak Alan, sama Bunda. Masa Mbok yang bersihin?"

Mbok Ijah menghela napas pasrah. Alka memang sulit dibantah.

"Katanya besok Senin udah PTS."

"Capek belajar terus, pening." Alka melanjutkan kegiatan mengepelnya. Kali ini dengan langkah mundur.

"Ya, udah. Mbok bersihin dapur. Tinggal aja kalo Aden capek." Mbok Ijah mengambil langkah menuju dapur.

Alka menghela napas lelah.

Pusing. Hal itu cukup membuat kegiatannya terhenti. Lelaki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bahkan belum satu ruangan ia bersihkan tetapi tubuhnya telah protes lelah.

Alka menggeleng. Mengusir denyutan di kepalanya yang kian menjadi-jadi. Ia kembali menunduk. Melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Namun, niat itu kembali terhenti saat dilihatnya bercak darah di lantai keramik itu. Tangannya tergerak menyentuh hidungnya. Dan tepat seperti dugaannya, darah itu menetes dari kedua lubang itu.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang