Tangan putih itu mengusap kaca yang menyekat antara dirinya dan seorang yang berada di dalam sana. Seorang yang tengah berjuang untuk tetap bertahan dengan berbagai alat medis yang menopang hidupnya.
Sesak.
Selalu seperti ini rasanya saat mata milik remaja itu kembali melihat sang kakak tak berdaya. Ingin rasanya ia menangis sejadi-jadinya. Melepas rasa sesak yang menekan dadanya kuat-kuat.
"Kak...." Rissa tak dapat berkata apa-apa. Hanya sesekali panggilan itu keluar dari bibirnya yang bergetar.
Sebuah tangan menarik tubuh remaja itu. Membawanya ke dalam pelukan yang menenangkan. "Nangis aja, jangan ditahan."
Perlahan, cairan bening dari kedua matanya meluruh. Ia membekap mulutnya. Menyembunyikan wajahnya di balik dada seorang yang memeluknya.
"Makasih Kak Al."
***
Helaan napas kasar kembali terdengar. Memecah keheningan yang menjadi kawannya malam ini. Lelaki itu masih berdiri di balkon kamarnya. Memandang apa saja di depannya dengan pandangan kosong. Pikirnya masih mengelana mengingat sepotong kenangan terakhirnya bersama seorang yang telah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
Alka membuka matanya perlahan. Menyipit guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
Pusing. Rasa itu masih mendominasi. Namun sekuat yang ia mampu, ia kembali membuka matanya.
"Kak Alan...." panggilnya, lirih. Namun, ia tak mendapati sosok itu di tempatnya berada. Alka mencoba untuk bangkit, tetapi sebuah tangan menahannya.
"Tiduran dulu," titah Randy. Alka bahkan baru menyadari jika lelaki jangkung itu berada di sana.
"Lo cari ini?" Randy menyodorkan botol obatnya. Entah dari mana lelaki itu mendapatkannya, Alka tak ingin memikirkannya. Toh, ia juga membutuhkan butiran pahit itu untuk meredam sakitnya.
"Mau gue antar ke RS?"
Alka menggeleng pelan setelah menelan obatnya. Ia memilih untuk memjamkan matanya. Menunggu obat itu bereaksi.
"Al?"
Alka menggerakkan matanya. Menatap pemilik suara itu yang kini telah ikut berbaring di brankar UKS, di samping brankarnya.
Randy terkekeh pelan.
"Gue juga sebenernya setuju kalo lo yang gantiin posisi gue jadi Pradana. Tapi sayang, fisik lo nggak kuat," ujarnya.
Alka mengernyit. Apakah lelaki itu sudah tahu tentang penyakitnya?
"Lo sekarat 'kan, Al?"
Bibir Alka terkatup rapat. Sama sekali tak berniat menyangkal ucapan itu.
"Adek gue juga sama, kanker otak. Makanya gue tahu kalo lo juga sakit itu, gue udah biasa liat gejalanya."
Alka masih tak bersuara. Namun, setidaknya ia tahu dari mana lelaki itu mengetahui penyakitnya.
"Stadium berapa?" tanya Randy.
"Terakhir periksa dua. Tapi keknya udah makin parah," jawab Alka. Lelaki itu kembali memejamkan matanya. Merasa tak lagi perlu berpura-pura menyembunyikan sakitnya di hadapan Randy.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomansCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
