Tawa itu, indah kala menyapa telinga. Ah, bahkan hanya sekadar senyum sosok itu, ia benar-benar merindukannya. Cara bicaranya yang khas, kata-kata yang terkadang tak berbobot, cara berpikir yang sederhana, dan candaan yang sontak melepas tawa. Alan benar-benar merindukan itu semua.
Kini ia hanya mampu berdiri di tempat ini. Layaknya malam-malam sebelumnya, dalam belaian suasana yang tak pernah dapat ia mengerti, dirinya kembali menjadi saksi atas kebahagiaan itu.
Seorang pria paruh baya terkekeh lebar. Pun seorang wanita manis yang tak pernah melepas genggamannya pada lelaki itu. Sedangkan dua remaja berkemeja putih tak henti-hentinya melempar canda.
Lagi, sosok itu tertawa lepas. Bahkan, Alan tak pernah mendengar tawa seindah itu sebelumnya. Dia... benar-benar bahagia kini.
Alan mengulurkan tangannya. Berniat meraih kebahagiaan yang sama. Namun, tak pernah sampai. Tak ada yang bergerak di antara mereka. Jarak seinci yang ada tampaknya hanya ilusi. Mereka berada di tempat yang sama, tetapi lagi dan lagi Alan tak pernah dapat meraihnya.
Satu di antara dua remaja itu menoleh. Lelaki jangkung berkulit sawo matang. Tersenyum lebar ke arahnya seakan mengejek.
"Alka milik gue Bro!" Kalimat itulah yang tergambar dalam wajah berseri itu.
Alan tercengang. Bibirnya berkedut. Entah apa yang ingin ia utarkan. Namun, lidahnya seakan kelu. Hingga remaja yang lain turut berbalik. Tersenyum lebar ke arahnya seraya melambaikan tangan.
Sepasang mata indah itu, bibir tipisnya, gigi putihnya yang tak tersusun rapi, Alan akan selalu mengingatnya.
Sadar, Alan tersenyum dalam tidurnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
Storie d'AmoreCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
