24. Cewek itu Gue

8.2K 923 103
                                        

"Ck, dikali pekok bukan ditambah!" Tangan Alka tergerak mengambil penghapus. Tanpa persetujuan pemilik tulisan itu, ia langsung menghapusnya. Rain memberengut kesal. Bibirnya telah mengerucut lucu. Dengan kasar, ia mengambil alih penghapus.

"Makanya, kalo mau jawab soal, rumusnya ditulis dulu," nasihat Alka.

"Bacot!" umpat gadis itu.

Alka terkekeh. Pandangannya sejenak beralih menyapu isi kelas yang telah kosong. Setelah bel pulang berbunyi tadi, gadis cantik itu menahannya pulang. Menggunakan alasan mengerjakan PR bersama, walau pada akhirnya berakhir dengan Alka menjadi tutor gadis itu.

"Lo banyak belajar dari Kak Alan, ya?"

Alka mengangguk.

"Sebenernya sih," Rain menjeda kalimatnya saat ia menghitung dengan jarinya, "gue lebih paham kalo belajar sama kakak lo," lanjutnya.

Alka tak merespon. Sibuk mengamati angka yang tengah gadis itu tulis.

"Tapi sayangnya... kakak lo jarang main ke rumah," tambahnya, terdengar sendu. Namun, beberapa detik kemudian ia terkekeh.

"Gue kalo ngarep sering ketinggian ya, Al?" Alka tak yakin jika pertanyaan itu tertuju padanya. Toh, Rain juga tak membutuhkan jawaban.

"Ck, ini dua pangkat tiga. Bukan dua kali tiga." Alka hendak kembali menghapus tulisan itu. Namun, dengan cepat Rain menjauhkan bukunya.

"Bawel!"

"Lah, tadi suruh ngajarin?" batin lelaki manis itu.

"Gue bisa sendiri!" Rain mengambil penghapus di tangan Alka dengan kesal.

Alka memilih diam mengamati. Ia tahu jika suasana hati gadis itu telah berubah buruk.

"Issh... soal apaan sih?" Rain menyobek buku tugasnya, kesal.

"Lo juga! Tadi gue suruh ngajarin malah cuma bengong!"

Alka menghela napas. "Sabar Al. Mungkin dia lagi PMS," batinnya.

Rain tiba-tiba bangkit dari duduknya. Memasukkan buku-bukunya asal ke dalam tas dan berlalu pergi begitu saja. Seperti biasanya, tak ada kata "terima kasih" atau "maaf" yang terucap.

"Heran, kenapa cewek kek gitu bisa jadi rebutan?" gumamnya. Namun, ia juga belum bisa menyangkal jika Rain masih menjadi seorang yang membuatnya sulit tidur.

***

Rain melangkahkan kakinya menyusuri koridor. Dadanya naik-turun tak teratur. Napasnya memburu. Dan ia benci dirinya yang seperti ini. Terlebih saat air bening yang telah menumpuk di pelupuk matanya mendesak untuk jatuh.

Kapan ia bisa melupakan sosok tampan itu? Atau setidaknya ia bisa menendangnya jauh-jauh dari ruang hatinya. Berapa kali ia mengatakan bahwa ia akan melupakan sosok itu. Namun nyatanya, pada detik ini pun bayangan tampan itu tak pernah luput dari pikirnya.

"Rain!"

Gadis itu menghentikan langkahnya. Menghapus kasar air mata yang entah sejak kapan mengalir.

"Berengsek lo, Alan!" batinnya mengumpat. Ia yakin, jika sosok yang kini berada di depannya itu melihatnya menangis. Dan karena sosok bernama Alan itu, ia harus menahan malu di depan temannya sendiri.

"Lo kenapa nangis?" tanya gadis berambut pendek itu. Dia Mega, tetangga kelas.

"Pengen aja," jawabnya.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang