38. Flashback

8.5K 1K 189
                                        

Sarah. Kala mendengar nama itu, sontak pikirannya akan kembali berkelana pada belasan tahun yang lalu. Saat sinar matahari tak pernah berhasil menggagalkan tekad gadis kecil itu duduk di taman menunggu kepulangannya.

Gadis kecil itu, bersurai hitam sebahu. Pemilik pita berwarna biru sebagai pengikatnya.Pemilik sepasang bermanik hitam berbinar. Bibir merah tipisnya yang menggoda saat sudut-sudut bibirnya terangkat.

Sarah. Dia gadis kecil masa lalunya. Gadis mungil yang selalu memanggilnya "Mas" selayaknya kakak adik kandung.

"Mas Danang udah pulang?" begitulah kalimat tanya yang terdengar saat kakinya menginjak rumput taman panti asuhan tempatnya tinggal. Lalu ia akan berlari. Memeluk tubuh yang lebih kecil dari tubuhnya. Melepas rindu setelah beberapa jam tak bertemu.

"Masuk yuk Dek?" Dan ia akan selalu menggandeng tangan mungil itu. Menggenggamnya erat dan tak akan pernah melepasnya. Tak kan pernah.

***

Bukan hal yang sulit untuk mencari pemilik nama Sarah dari tiga gadis itu. Cukup menentukan gadis yang paling mungil di antara mereka. Gadis yang biasa mengikat rambutnya tinggi. Gadis pemilik senyum merekah. Gadis pemilik tutur sederhana yang selalu terdengar meyakinkan.

Dia Sarah. Memosisikan tubuh mungilnya di tengah dua gadis yang berjalan beriringan di sampingnya. Sesekali melempar canda yang sontak membuat dua orang kawannya terkekeh.

"Mas Danag udah nunggu dari tadi?"

Danang ingat, kala itu ia tersenyum. Mengangguk sebagai jawaban.

"Aku duluan Far, Nin," pamit gadis itu. Kemudian ia meraih lengan Danang. Beranjak menjauh dan sama seperti seminggu sebelumnya, ia merengek meminta martabak manis di pinggir jalan. Aneh memang. Namun, Danang menyayanginya. Lebih dari sekadar kakak menyayangi sang adik.

***

"Mas aku jadian!" kabarnya girang.

Danang kala itu membisu. Tak percaya dengan apa yang seorang di hadapannya itu katakan.

"Tadi Mas Hermawan nembak aku dan aku...."

"Kamu terima?" tuntut Danang.

Sarah terkekeh. Merasa lucu melihat ekspresi tak terduga dari sosok kakaknya.

"Kenapa nggak?"

Danang mendengkus. Melempar asal pandangannya sebelum berhenti menatap sepasang lawan bicaranya itu.

"Sar...."

"Mas Hermawan itu orangnya baik. Aku percaya sama dia. Mas percaya sama aku, kan?"

Tak ada pilihan lain untuk Danang selain mengangguk.

"Mas...."

"Hm?"

"Aku sayang sama kamu, percaya?"

"Percaya. Aku juga," jawabnya, "bahkan rasa sayang aku lebih dari sepasang kakak-adik, Sar," lanjutnya dalam hati.

***

Semua berjalan layaknya pada umumnya. Masa remaja seperti kebanyakan orang punya, Sarah juga mendapatkannya. Dia gadis kuat. Mendisfungsikan telinganya saat komentar buruk mendatanginya. Dirinya yang tak punya orang tua. Ia yang tinggal di panti asuhan. Ia yang kurang berkelas. Sarah seakan tak pernah mendengar suara itu.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang