25. Selagi Belum Terlepas

8.8K 986 138
                                        

Tuhan, jika aku tak bisa memilikinya,
jika aku boleh meminta,
maka, biarlah dia menjadi buruk rupa, buta, bisu, tuli, lumpuh sekaligus
agar, hanya aku yang mampu menyayanginya....

Rain menautkan kedua alisnya setelah membaca tulisan di bawah sketsa wajah itu. Menimbang-nimbang apakah ia harus marah atau tidak setelah membacanya.

Ah, mungkin itu hanyalah ungkapan betapa Alka mengaguminya. Itulah satu-satu pemikiran positif yang dapat ia terima.

Namun, mengapa harus menggunakan serangkain kata: buruk rupa, bisu, buta, tuli, lumpuh?

Tak adakah kata-kata yang lebih indah dari itu?

"Kampret emang lo, Al!" umpatnya, "emang kalo gue beneran buruk rupa, bisu, buta, tuli, lumpuh lo bakalan tetep suka? Ah, bullshit!" Rain membuang tubuhnya kasar ke atas ranjang. Sejenak memejamkan matanya sebelum pandangannya berakhir menatap langit-langit kamar. Hingga tanpa sadar, ia terkekeh.

Ah, iya. Rain ingat. Bahkan puisi yang pernah lelaki itu bacakan di depan kelas pernah mengundang tawa seisi kelas. Nilainya: Alka memang payah dalam merangkai kata.

Rain kembali memejamkan matanya. Dan pada saat itu, kejadian beberapa jam yang lalu kembali berputar di benaknya.

"Kenapa harus gue?" tanyanya saat itu.

"Kenapa harus Kak Alan?" Alka berbalik melempar pertanyaan.

Rain membisu. Ia hanya dapat memandang wajah Alka dalam diam saat keduanya duduk di bangku taman sore itu.

"'Kenapa harus Kak Alan yang lo suka?' kalo pertanyaan itu terlempar ke lo, apa yang bakalan lo jawab?" Alka kembali bertanya.

Rain menghela napas. Menggeleng samar seraya menjawab, "Nggak tau. Kalo cinta bisa milih, gue nggak akan pilih kakak lo."

Senyuman lebar terukir oleh bibir tipis kala itu.

"Sama Rain. Kalo gue bisa milih, gue juga nggak akan suka sama lo," tutur Alka.

Rain mengerti. Namun, ia tak juga kembali bersuara. Rasa bersalah masih menguasai dirinya. Ia tahu bagaimana perasaan Alka selama ini, saat lelaki itu mendengar semua cerita tentang sang kakak dari mulutnya.

Sakit.

Pasti rasa itu begitu kentara. Tak akan jauh berbeda saat Irene bercerita tentang Alan di depannya.

"Rain?"

Suara itu sontak membuyarkan lamunannya. Rain kembali menatap Alka yang masih tersenyum lebar.

"Kalo gue bisa milih, mungkin gue bakalan pilih Kak Tasya jadi orang yang gue suka, walau dia udah punya pacar, keknya nggak percuma kalo gue perjuangin," Alka menjeda kalimatnya sejenak,"atau kalo nggak, mungkin Nabila juga boleh. Seenggaknya dia punya otak encer. Tapi apesnya, orang itu malah lo." Alka terkekeh.

Sontak Rain menyikut rusuk Alka. Kesal dengan apa yang lelaki itu katakan. Baru saja, sosok itu membuatnya seakan terbang menembus langit. Namun, kata-kata itu seakan menjatuhkannya di tempat terendah.

"Ck, ngambek nih ceritanya?" Alka terkekeh semakin lebar saat melihat wajah Rain yang tertekuk.

"Ih, lo nyebelin! Sumpah!" Rain memukul lengan lelaki itu dengan buku yang masih ia pegang.

"Aw! Udah-udah! Sakit dodol!" pekik Alka.

"Lo yang dodol!" Rain melemparkan buku yang ia pegang ke wajah Alka. Namun dengan gesit, Alka menagkapnya.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang