Rain membuang ponselnya asal. Kembali melempar tubuhnya ke atas ranjang setelah membaca pesan yang baru saja masuk. Ia menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Tubuhnya bergetar hebat seiring sesak yang kian menghimpit paru.
"Nggak mungkin...." Ia menggeleng. Tertawa hambar akan berita yang baru saja ia dapat.
"Nggak! Itu nggak mungkin!"
Rain bangkit. Menegakkan tubuhnya yang bergetar semakin hebat. Dengan cepat, ia kembali membuka ponselnya. Membaca pesan itu dengan harap itu semua hanyalah lelucon. Namun, tak ada satu pun pesan lain yang meyanggah satu berita itu.
Rain terduduk dalam diam. Tangannya masih menggenggam erat ponselnya. Sedangkan kedua matanya mulai basah.
"Nggak! Nggak mungkin dia...." Ia membekap mulutnya. Tak kuasa untuk melanjutkan kalimat itu.
"Bullshit!"
Gadis itu beranjak. Keluar dari kamarnya menuju kamar sang kakak. Dibukanya pintu kamar bercat biru itu dengan kasar hingga menimbulkan suara. Matanya yang telah memerah menangkap sosok sang kakak terduduk di sisi kasurnya. Dengan penampilan tak kalah kacau darinya.
"Kak...." panggilnya dengan suara bergetar.
Irene bergeming. Pandangan kosongnya tertuju ke depan dengan cairan bening yang semakin deras mendesak turun.
"Kak ini nggak bener, 'kan?" Rain berjongkok di depan sang kakak.
"Ini bohong, 'kan? Ini cuma iseng, 'kan? Dia nggak bener-bener...." Rain tak dapat melanjutkan ucapannya. Napasnya tercekat oleh isak yang ia tahan.
"Kak jawab gue! Ini nggak bener, 'kan?" Habis sudah kesabaran Rain melihat kakaknya yang hanya bergeming. Seakan tuli pada apa yang ia tanyakan.
"Rain...." Suara Irene terdengar bergetar. Kedua tangannya tergerak untuk memeluk sang adik.
"Nggak! Ini nggak mungkin!" Rain menjauh. Melipat kedua kakinya di depan dada dan memeluknya. Menenggelamkan kepalanya di sana seraya melepas isaknya.
Rain masih tak dapat percaya akan kenyataan itu. Baru kemarin malam sosok itu bergabung bersamanya. Turut bercanda walau memang lebih banyak diam dari sebelumnya. Namun pagi ini, dirinya dipukul oleh fakta bahwa sosok itu telah pergi.
***
Sepasang kakak-adik itu masih berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi. Namun, setelah melihat bendera kuning terkibar ringan oleh embusan angin harapan keduanya mulai pupus.
Kedua remaja yang hanya terpaut dua tahun itu berusaha tenang selagi sepasang kakinya mengambil langkah masuk ke dalam rumah yang telah dipenuhi pelayat. Mata keduanya masih tampak sembab. Rona wajah putih yang biasa terlihat telah berubah merah.
Rain mengambil langkah ke ruang tengah. Terpaku saat mendapati tubuh itu telah terbaring kaku dengan di keliling orang-orang yang tengah mengaji.
Nyeri. Rasa itu kembali timbul ke permukaan. Harapnya benar-benar pupus kini. Ia sadar jika sosok pemilik tubuh itu benar-benar telah pergi setelah beberapa jam mencoba bertahan di Ruang ICU.
Dengan gerakan pelan, Rain turut duduk di sekeliling tubuh itu. Turut mendoakan agar sosok itu tenang di alam sana.
***
Rintik hujan perlahan jatuh membasahi bumi. Tepat setelah tubuh yang tak lagi bernyawa itu selesai dikebumikan. Isak tangis masih terdengar. Begitu juga dengan tetes air mata yang seakan berlomba dengan air hujan.
Tangan wanita itu tergerak untuk mengusap nisan. Mengelus dengan lembut seakan menyentuh puncuk kepala pemilik nama yang tertera di atasnya. Raut penyesalan terpapar jelas di wajah wanita itu. Perlahan, tubuh wanita paruh baya itu meluruh. Tangannya masih berpegang pada nisan yang tertera nama sang putra.
Jeritan wanita itu seakan memekik telinga. Suara guntur pun turut menjawab duka dalam diri wanita itu. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Dengan kedua telapak tangan yang kini menggenggam tanah basah itu.
Sesal. Jelas rasa itu yang menguasai hatinya. Ingin rasanya ia kembali menggali gundukan tanah itu. Memeluk tubuh yang telah kaku dalam dekapan bumi. Berbisik di telinga sosok yang tak lagi bernyawa agar matanya kembali terbuka.
Namun, apa?
Nyatanya sedari tadi ia hanya mampu terdiam. Hanya mampu membeku saat melihat sosok itu di masukkan ke liang lahat.
Ah, apakah waktu benar-benar tak dapat diputar barang sehari saja?
Jika hal itu mungkin, tak peduli apapun yang ada pada dirinya sebagai alat tukar untuk mengembalikan waktu, ia akan memberikannya. Hanya untuk sehari bersama sosok itu. Memeluk tubuh itu cukup lama. Mencium keningnya hingga bosan. Dan berbisik bahwa ia menyayanginya hingga bibirnya lelah sekalipun.
Namun pada faktanya, waktu tak akan pernah dapat diputar, bukan?
Dan sosok yang kini telah dalam rengkuhan bumi itu, tak akan pernah kembali.
Pergi.
Pergi membawa luka yang mungkin tak ada seorang pun mengetahui.
***
Embusan angin malam berhasil menggoyangkan surai kemerahan miliknya. Rafa membisu dalam dekapan angin malam. Membirkan udara bergerak itu menyelimuti dirinya dan kedua sahabatnya yang juga berada di sana.
Sisa hujan sore itu masih terasa. Menggerakkan pikirnya untuk kembali mengingat kejadian sore itu.
Ia mengembuskan napasnya, kasar. Hatinya masih mengganjal akan kenyataan itu. Mengingat bahwa baru kemarin, sosok itu menghukumnya dengan tegas. Dan kini....
Ah, hidup memang seperti itu. Tak serupa dengan sebuah narasi yang dapat dengan mudah tertebak akhirnya.
"Gue nggak nyangka kalo bakalan sesedih ini." Suara miliknya berhasil memecah keheningan di antara ketiganya.
Farkhan terkekeh pelan, "Kalo di antara kita ada yang mati duluan gimana?" tanyanya.
"Itu udah takdir," jawab Rafa.
"Dan kita cuma bisa nangisin takdir," imbuh Irfan.
***
To be Continued
Menghidupkan satu tokoh itu sulit. Namun, membunuhnya itu jauh lebih mudah😂😂😂
Love,
lyndia_sari
Central Java, 07.13.18
Revisi: 12.19.18
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomanceCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
