Alan meremas jarinya, cemas. Detak jantungnya tak lagi teratur bahkan sebelum ia memasuki ruangan ini. Remaja tingkat akhir SMA itu mencoba mengatur napasnya. Berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin oksigen untuk ia hirup saat dadanya terasa sesak.
"Jadi, Alka sudah mengatakan hal itu pada kamu?"
Alan mengagguk samar. Tubuhnya yang bergetar seakan membuat organnya kaku untuk digerakkan.
Danang menghela napas sejenak sebelum tersenyum tipis. "Setidaknya sudah ada kemajuan," ujarnya.
"Kemajuan?" Alan sangat berharap setelah mendengar kata itu.
Apakah Alka selama ini berobat di belakangnya dan keadaannya mulai membaik?
Alan benar-benar berharap hal itu terjadi. Setelah semalam ia dibuat tak dapat tidur oleh artikel-artikel di internet mengenai penyakit sang adik.
"Apa Alka selama ini berobat di belakang saya, Dok?" Kalimat tanya itu terdengar bergetar.
"Hah, berobat? Apa kamu sudah membahasnya dengan adikmu? Saya sudah lelah membujuknya untuk melakukan pengobatan."
"Ma-maksud Dokter?"
Danang membuang napasnya, kasar. "Bahkan untuk sekedar diperikasa pun tak mau. Ia kemari hanya untuk menebus obat," jawab Danang.
Dan itu, sontak membuat Alan menegang. Mengingat betapa bahaya risiko yang dapat terjadi jika penyakit itu tidak cepat tertangani.
"Alan?"
Alan sedikit menegakkan kepalanya. Berusaha menatap sepasang mata milik pria paruh baya itu.
"Saya merasa lega Alka sudah bisa mengatakan ini pada kamu. Itu berarti ia mulai terbuka. Ia sudah mulai sadar jika ia membutuhkan orang lain dalam hal ini. Ia butuh dukungan. Jadi, saya meminta kepada kamu untuk membujuk Alka berobat. Mengingat penyakitnya yang mulai...." Danang ragu dalam meneruskan kalimatnya.
"Apa sudah separah itu?" sambung Alan dengan tubuh semakin bergetar.
Lagi, Danang membuang napasnya kasar.
"Stadium tiga sudah memasuki waktu yang serius. Stadium kanker bisa dapat dengan cepat beranjak ke stadium akhir jika tidak mendapat pengobatan."
Alan merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia kira bahan bacaan yang ia baca semalam hanya melebih-lebihkan fakta yang ada. Namun nyatanya, apa yang Danang katakan terdengar lebih mengerikan dari apa yang ia baca. Mengingat penyakit mematikan itu bersarang di tubuh adiknya.
"Jika pengobatan tak dilakukan, sel kanker yang ada bisa menjadi lebih ganas. Bahkan, bisa menyebabkan gangguan pendengaran, penglihatan, kesulitan dalam berbicara, atau lumpuh walau umumnya terjadi di beberapa anggota saja. Daya berpikir dan ingatan penderita juga akan terganggu. Jika sudah memasuki stadium akhir, bahkan bisa menyebabkan kemunduran mental."
Alan meneguk salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya seakan tercekat. Ia tak lagi mampu berkata-kata barang sedikit pun.
"Mengingat organ vital ini sangat penting, jadi seharusnya kita segera mengambil tindakan," ujar Danang.
Alan mengusap gusar wajahnya.
"Saya mohon bujuk adik kamu berobat, sebelum terlambat."
***
Rain kembali mengaduk mie ayamnya. Memainkan mie dengan sumpit tanpa berniat memasukkannya ke dalam mulut. Embusan napas kasar terdengar dari gadis itu. Matanya meliar. Mengamati sekitar tempatnya berada kini.
"Hah, kenapa harus di sini?"
Rain kembali mengembuskan napasnya, kasar. Saat kepingan kenangan tentang lelaki berkulit sawo matang itu kembali datang. Ia menengok. Memperhatikan Alka yang tengah menyantap makananya dengan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomanceCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
