"Kuy mulai belajarnya!" Farkhan kembali membuang asal kulit kacang. Sontak membuat pemilik rumah yang ia tempati menatap tajam ke arahnya.
"Lo dari tadi kay kuy kay kuy nggak mulai-mulai!" sentak Alan.
Farkhan menampilkan senyum polosnya meski nyalinya mulai menciut.
"Belajar apa dulu nih? Yang itung-itungan dong, fisika apa mtk gitu," usul Rafa.
"Mtk dulu," putus Irfan. Keduanya mengangguk. Mengambil modul masing-masing, sesobek kertas, dan tak lupa pensil untuk corat-coret.
"Tutup dulu Al buku sejarahnya! Lo bilang tadi mau ajarin itung-itungan, eh malah sibuk belajar sendiri," komentar Rafa.
Alka sejenak beralih pandang dari bukunya. "Bentar, besok gue ulangan sejarah," tolak Alka.
"Serah lo lah!" Farkhan fokus pada kertas dan pensilnya. Sesekali kembali mengambil kacang untuk temannya belajar.
"Senang ya kalau rumahnya rame. Besok besok ajak temennya main lagi, Aden." Terdengar suara Mbok Ijah yang membawakan mereka minuman.
"Iya Mbok, besok saya ajak teman sekelas sekalian biar makin rame," cetus Farkhan.
"Ya kali, lo kira mau hajatan, lo di sini aja udah habisan banyak makan," komentar Alan.
Lagi, Farkhan tersenyum lebar tanpa merasa bersalah. Mbok Ijah turut tersenyum. Wanita itu menata lima gelas es jeruk di meja dan meletakkan beberapa cemilan lagi.
"Kalau lihat kalian berempat, Mbok jadi inget Punokawan, lucu." Mbok Ijah terkekeh.
"Bener tuh, gue Arjunanya," sambung Alka meski matanya tak lepas dari buka yang ia pegang.
Hening. Semua pasang mata tertuju pada Alka. Sebelum tawa Farkhan memecahkannya. "Arjuna? Ya kali." Lelak jangkung itu masih terkekeh lebar.
Irfan turut terkekeh, "Arjuna tuh tokoh Pandawa Al, bukan Punokawan."
Alka mendongak. Memperhatikan wajah-wajah sahabatnya yang tengah mengejek.
"Gimana sih lo? Katanya mau jadi tutor kita, eh malah tutornya aja pikun," celetuk Farkhan.
Bibir Alka mengerucut. Ia kembali fokus pada bukunya.
"Eh, btw lo kok bisa hafal sama yang begituan?" tanya Rafa sembari mengambil minumnya.
"Banyakan nonton drama India dia, Mahabarata," komentar Alan.
"Cie... anak laki tontonannya yang begituan," goda Farkhan.
"Dari pada nonton drama Korea," cibirnya memandang Rafa.
"Mending, dari pada nonton Dora the Eksplorer." Rafa tak mau kalah. Dirinya berbalik mengejek Farkhan.
"Kampret! Gue nggak nonton yang begituan!" sanggah Farkhan.
"Bullshit! Kemarin gue ke rumah lo, lo juga lagi nonton itu," benar Irfan.
Farkhan menarik napasnya dalam-dalam, meredam emosi.
"Kalo Kak Alan sukanya nonton apa Al?"
"Liputan 6," singkat Alka. Sontak membuat tawa Farkhan kembali pecah.
"Kek bapak-bapak tontonanya begituan," komentarnya.
"Nih lama-lama kacang masuk sama toplesnya ke mulut lo deh." Alan bersiap mengangkat toples di depannya.
"Becanda elah Bang." Farkhan menyatukan kedua tangannya di depan dada, meminta maaf.
"Bodo nonton Liputan 6 dari pada nonton film BF, 21 plus!" Sontak tawa kembali terdengar di ruangan itu. Mbok Ijah menggelengkan kepalanya. Sedangkan keempat remaja yang lain memandang Alka penuh ejek.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomansaCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
