33. Menyesal?

11.2K 1.2K 235
                                        

Alan meraih tangan sang adik. Menggenggamnya erat sedangkan sepasang netranya tak pernah lepas dari wajah pucat itu. Hatinya terasa ngilu memandang Alka dalam jarak sedekat ini. Selang yang dipaksa masuk melalui mulut sang adik dan kabel-kabel yang terpasang di tubuh itu kini menjadi penopang hidupnya.

"Sel kanker yang ada sudah menyebar hingga ke tulang belakang yang berhubungan langsung oleh batang otak. Apalagi bagian otak ini yang mengontrol fungsi vital tubuh, pernapasan, denyut jantung, hingga tekanan darah."

Perih. Alan merasakan hatinya kembali berdenyut nyeri. Mengingat ucapan Danang beberapa jam yang lalu. Ditambah dengan dirinya yang menjadi saksi betapa sakitnya sang adik.

"Al...." Alan mencoba membuka suaranya.

Hanya suara bedside monitor yang terdengar. Sepasang mata indah itu masih terpejam. Masih enggan untuk terbuka.

"Lo nggak pa-pa kan?"

Bodoh. Jelas di depan matanya sosok itu benar-benar terbaring lemah dan ia tetap mempertanyakan hal itu meski tahu dengan betul jawabannya.

"Jawab Al. Bangun. Bilang ke gue kalo lo nggak pa-pa, kayak yang sering lo bilang." Alan terkekeh pelan, meski cairan bening itu kembali mendesak keluar dari sudut matanya.

"Al gue sayang lo, percaya?" Alan menirukan apa yang biasa adiknya itu katakan. Namun sama seperti dirinya kala itu, tak pernah ada jawaban jika pertanyaan serupa terlontar.

"Lo juga sayang gue kan? Kalo lo sayang gue, bangun. Tanyakan pertanyaan kayak gitu dan gue bakalan jawab 'percaya'," ujarnya lagi meski sosok itu tak mungkin menjawab.

"Gue sayang lo, Al. Sorry kalo gue ganggu tidur lo, tapi please... buka mata lo buat gue."

Dan pada akhirnya, sang kakak kembali membiarkan air matanya mengalir bebas membasahi pipi. Mengusap puncak kepala sang adik dan mencium keningnya.

***

"Assalamu'alaikum."

Terdengar suara dari pintu utama rumah itu. Nina yang tengah duduk di ruang tamu sontak memandang ke arah pintu. Wanita itu mengembuskan napas lega melihat siapa yang muncul dari balik pintu itu.

"Wa'alaikumsalam," jawabnya. Ia bangkit. Menghampiri sang putra yang kini menghambur ke dalam pelukannya.

Nina mengerutkan keningnya. Terheran akan Alan yang tiba-tiba memeluknya erat dan menyembunyikan wajahnya di lekuk lehernya.

"Anak Mama kenapa?" tanyanya khawatir.

Alan mengangkat kepalanya. Melepas pelukannya. Kemudian memandang lekat-lekat sepasang mata milik sang ibu.

"Alan kenapa, hm? Mama udah khawatir dari tadi. Kenapa baru pulang malam begini? Mang Soleh udah jemput dari tadi siang kan?" Nina menangkup wajah sang putra.

"Ma...." Suara itu terdengar bergetar.

"Kenapa? Cerita sama Mama. Alan sakit?" Wanita itu mengamati tubuh putranya yang tampak lelah.

"Bukan Alan, tapi Adek." Sengaja, Alan menggunakan panggilan itu untuk mengetahui respon sang ibu.

Nina menurunkan tangannya dari wajah putranya. Raut wajahnya berubah dingin.

"Siapa? Adek?" Nina mendengus, "Mama nggak pernah ngelahirin anak lain selain kamu."

"Ma...."

"Udah. Mendingan Alan ke kamar. Mama siapin air hangat buat Alan mandi," potong Nina. Wanita itu mulai beranjak. Namun, terhenti saat Alan menahannya.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang