Nina berbalik saat terdengar suara dari tangga. Kegiatannya menyiapkan sarapan sontak terhenti. Segera, ia berlari menuju tangga. Membantu sosok yang baru saja jatuh dari sana.
"Adek nggak papa?" tanyanya khawatir.
Alka masih dalam posisi terduduk di ujung bawah tangga. Ia mengangkat wajahnya sejenak. Sekilas menatap sang bunda sebelum menggeleng keras.
Alan yang baru keluar kamar langsung berlari menuruni tangga. Berniat membantu sang adik berdiri, tetapi sosok itu masih diam. "Al, lo nggak papa?"
"Buram." Alka mengerjap guna memperjelas penglihatannya.
"Apanya yang buram?" tanya sang kakak khawatir.
"Kak... gelap...." Tangan Alka bergerak meraih benda di sekitarnya.
Alan dan Nina menegang.
"Adek? Adek dengar Bunda?" Nina menangkup wajah Alka. Berusaha menuntun sepasang mata itu menatap mata miliknya. Namun, sepasang mata kosong itu memandang liar. Seolah mencari secercah cahaya guna membantunya melihat.
"Alka nggak bisa liat...." Tubuh Alka bergetar hebat.
"Tidak!" Alka menggeleng. Ia belum siap untuk hal ini. Ia masih ingin melihat wajah kakak dan sang bunda.
"Lo beneran nggak bisa liat gue?" Alan melambaikan tangannya di depan wajah Alka. Namun, bola mata itu tak bergerak.
"Ya Allah... Adek...." Nina menarik Alka ke dalam pelukannya. Hatinya kembali berdesir nyeri mendapat hal yang ia takutkan pagi ini terjadi.
Alka memejamkan matanya, erat. Merapalkan doa dalam batinnya. Hingga ia kembali membuka matanya. Menyipit saat perlahan ia kembali dapat melihat secercah cahaya. Alka terkesiap. Tuhan masih memberi kesempatan baginya untuk melihat orang-orang yang ia sayangi.
"Bun...." Bibir Alka berkedut. Meski pandangannya masih buram, setidaknya ia masih diperbolehkan melihat.
"Al-Alka bisa liat lagi," ujarnya. Membuat sang bunda melepaskan pelukannya.
Alan terperangah. Antara tak percaya dan rasa syukur beradu satu. "Lo nggak bohong, kan?"
Alka menatap mereka bergantian. Tersenyum tipis guna meyakinkan mereka. "Gue masih boleh liat kakak gue yang ganteng," ujarnya.
Air mata Nina kembali lepas. Ah, bahkan di sinilah Alka yang paling kuat. Harusnya ia dan si sulung yang menguatkan sosok itu. Namun, justru sebaliknya yang terjadi.
"Gue nggak papa," ujar Alka.
"Lo nggak usah sekolah hari ini," titah Alan.
"Nggak bisa. Hari ini ada ulangan sejarah."
"Al...."
"Kak," potong Alka, "please ini yang terakhir. Besok gue mau berobat, bukan hari ini, ya?" pinta Alka.
"Al... tapi keadaan lo...."
"Gue kuat," potong Alka.
"Adek... Adek nurut sama Kakak dulu, ya? Adek di rumah dulu," bujuk Nina.
"Nggak. Alka janji ini yang terakhir Alka sekolah." Alka menatap dalam mata Nina. Meminta persetujuan dari wanita itu.
"Bun...."
Nina mendesah kasar. Memejamkan matanya kemudian menangguk samar.
"Nggak bisa," cegah Alan. Lelaki itu berdiri.
"Kak...." Nina mendongak.
Alan membuang mukanya. Menghalau air bening yang telah berada di sudut matanya jatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomanceCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
