Alka menghela napas saat sesendok bubur itu kembali sang kakak ajukan padanya. "Nanti. Masih nggak enak," tolaknya.
Alan turut menghela napas. Diletakkannya kembali semangkuk bubur itu di nakas yang berada di ruang rawat. Matanya diam-diam menantap sendu sang adik. Belum genap sepuluh hari adiknya itu dirawat di tempat ini. Namun, tubuh yang lebih kecil itu tampak semakin kurus tiap harinya.
"Kalo udah enak dikit dimakan ya? Kasihan perut lo dari semalam nggak diisi." Hanya kalimat itu yang dapat Alan sampaikan. Dirinya tak tega jika harus kembali mendesak sang adik menelan bubur dan berakhir dengan memuntahkannya. Sama seperti beberapa saat yang lalu.
"Besok hari apa Kak?"
Lagi, Alan kembali menghela napasnya. Pasalnya Alka sudah menanyakan hal itu lebih dari tiga kali hingga siang ini.
Apa selemah itu daya ingatnya kini?
Hati Alan kembali berdenyut nyeri saat mengingat sang adik yang pernah terbaring lemah beberapa hari. Tak berniat membuka matanya dan saat sepasang mata itu terbuka, bahkan Alka tak mengigat apa-apa, termasuk dirinya. Butuh lebih dari tiga hari untuk ingatan itu kembali. Itu pun hanya sebagian kecil.
"Besok hari Selasa," jawab Alan pada akhirnya.
"Nanti udah boleh pulang, kan? Gue bosen di sini terus," adu sang adik.
"Iya. Makanya, makan yang banyak biar cepat pulih," nasihatnya.
Alka tak menjawab. Ia memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya dengan bantuan sang kakak. Nyeri rasa tulang belakangnya meski hanya digunakan untuk duduk.
"Kak?" panggilnya. Sepasang matanya menatap langit-langit. Sesekali mengeraskan rahang saat sendi-sendinya terasa ngilu.
"Kenapa?" sahut Alan.
"Pengen pulang. Kangen rumah, kangen...." Alka tak menyelesaikan ucapannya.
"Iya, nanti pulang. Sekarang istirahat dulu," titah sang kakak. Alan menarik selimut sebatas dada sang adik.
"Kak...."
"Sstt.... udah istirahat. Nanti sambung lagi," potong Alan.
"Iya kalo inget. Kalo masih bisa ngomong." Alka tersenyum, miris.
"Gue nggak suka lo ngomong gitu," ujar Alan, datar.
"Mending yang nggak ngomong, gitu?"
"Alka," sahut sang kakak dengan penekanan. Matanya menatap tajam Alka yang tersenyum tipis.
"Untung gue nggak lupa caranya tersenyum ya, Kak?" Ia terkekeh.
"Al, please jangan ngomongin itu," pinta Alan.
Alka tak menyahut. Terdiam beberapa saat sembari menutup mata. "Kadang, gue takut," ucapnya, "nggak, tepatnya gue emang penakut," ralatnya.
Alan mendudukkan tubuhnya di kursi kosong di samping sang adik.
"Apa yang buat lo takut?"
Alka menghela napas, berat. Dadanya seakan berat untuk terangkat guna mengisi oksigen ke dalam paru-parunya.
"Gue takut kalo nanti gue nggak bisa jalan lagi," jawabnya lirih.
Alan menatap sepasang mata yang masih tertutup itu.
"Itu nggak bakal terjadi," ujar Alan sungguh-sungguh.
"Kalo misal 'iya', gimana?" Alka membuka matanya. Menyambut tatapan mata sang kakak, "kadang, kaki gue udah kerasa kaku," tambahnya seraya tersenyum miris.
"Gue yang bakal gantiin lo jalan," jawab Alan tegas.
"Kalo gue nggak bisa liat lagi?"
"Al!" Alan mengeraskan rahangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomanceCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
