26. Last Memories

9.9K 1K 137
                                        

"Morning all...." Alka tersenyum lebar. Memamerkan detetan giginya yang putih bersih. Wajahnya yang tampak putih pucat ia sembunyikan di balik keceriaan pagi ini. Di punggungnya, ransel besar telah bertengger nyaman. Sedangkan satu tangannya membawa seikat kayu bakar.

"Pagi Cocan! Cie yang makin cantik aja...." goda Randy saat melihat penampilan Alka. Lelaki manis itu kini menata rambut berponinya rapi. Seragam pramuka dengan atribut lengkap melekat di tubuhnya. Tak cukup berwibawa memang, tetapi setidaknya pakaian berwarna coklat muda dan tua itu mendukung penampilannya.

Mendengar hal itu sontak membuat senyum Alka pudar. "Gue itu manis. Bukannya cantik, tapi imut, ganteng," sanggahnya tak terima.

"Coba ganti pake rok, mungkin lo jadi lebih cantik dari pacar gue." Randy terkekeh.

Tak!

Sebuah tongkat mendarat tepat di kepala lelaki berkulit sawo matang itu. Randy meringis. Mengusap kepalanya sembari memutar tubuh menghadap si pemegang tongkat.

"Oh, jadi gue kurang cantik?" Suara itu yang menyambutnya saat sepasang mata milik Randy bertemu pandang dengan wajah gadis itu. Gadis berkulit putih, manis, berkaca mata. Dia Tasya, kakak kelas pertama yang membuat Alka terpana saat hari seleksi pertama.

"Enggaklah. Secantik-cantiknya orang, bahkan nyokap gue sekalipun masih kalah cantik dari lo." Randy tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.

Tasya mengerucutkan bibirnya tak suka.

"Al, kayunya taruh situ aja," titah Irene.

Alka meletakkan kayu bakar bawaannya di tempat yang dimaksud.

"Pucet banget. Sakit?" komentar Irene saat menyadari wajah pucat Alka.

Alka meraba wajahnya.

"Keliatan banget ya?" tanya balik Alka.

Tangan Irene bergerak untuk menyentuh kening lelaki itu. Namun, Alka memalingkan wajahnya.

"I'm okay," ujar Alka.

"Ck, nggak bakat bohong lo," timpal Randy, "pulang gih kalo sakit. Ntar di sini nyusahin," tambahnya.

"Usir halus nih?"

"Usir kasar kalo lo nggak peka," jawab Randy.

Alka terkekeh kemudian beralih memandang Irene yang tengah sibuk mengarahkan adik kelasnya.

"Adek lo mana?" tanya Alka.

"Lagi cek perkap. Lo juga dapat tugas cek perkapkan?"

"Eh, iya." Alka mengelus tengkuknya.

"Ya udah sana bantuin. Jangan ngerusuhin gue di sini." Irene mendorong tubuh Alka.

"Cocan ikut gue aja kuy!"

"Ke mana?"

"Keliling. Mantau kerja yang lain." Randy menarik lengan lelaki itu.

"Nggak! Dia udah kejatah cek perkap!" cegah Irene.

"Kakak Irene yang baik hati dan tidak sombong, gue pinjem calon adek ipar lo. Sebentar... aja. Okay?" mohon lelaki jangkung itu.

Irene ingin marah. Namun yang timbul malah senyuman geli saat mendengar kata "adek ipar". Tanpa menunggu jawaban gadis yang satu kelas lebih tinggi darinya itu, Randy menyeret Alka pergi bersamanya.

"Eh, Cocan menurut lo, kalo gue nggak lagi jadi Pradana yang patut gantiin gue siapa?" mulai Randy untuk membuka percakapan.

"Gue," jawab Alka, percaya diri.

"Ck!" Randy hanya berdecak.

"Cocan?" panggilnya beberapa saat kemudian.

"Apaan lagi, sih?"

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang