17. Dua Rasa

9.3K 962 107
                                        

Alka mengambil tempat duduk di sofa panjang ruang tengah itu. Sedang sepasang matanya sibuk mengamati beberapa foto yang terpajang di sana.

"Lo kok mirip banget sama kakak lo, sih?" tanya Alka pada gadis yang berada di sampingnya, "baru nyadar aja gue. Awalnya gue nggak nyangka kalo kalian kakak-adek."

"Ck, lo 'kan liatnya pake mata kaki. Mana bisa liat bener-bener?" Rain berdecak.

"Lagian, Kak Irene juga, di depan adeknya kayak nggak kenal," lanjut Alka tanpa memedulikan kementar itu.

"Namanya juga pasang topeng," sahut Irene yang baru datang menghampiri mereka.

"Hah?" Alka mengernyit bingung.

"Kalo jadi anak Pramuka itu, harus tegas, keras."

Alka mengangguk.

"Mana tugasnya?" tanya Alka.

"Nih, gue sama Mega udah selesain setengah. Sisanya lo." Rain menyerahkan selembar kertas lebar yang digulung.

"Gue semua?"

"Setengahnya, budek. Yang setengah udah gue kerjain sama Mega kemarin," jawab Rain, ketus.

Alka mengerucutkan bibirnya. Lelaki itu membuka gulungan kertas itu. Mengamati poster setengah jadi yang menjadi tugas kelompok Pramukanya.

"Eh, Tera Giga Mega bantuin gue dong," pinta Alka.

"Nama gue Mega." Gadis yang sedari tadi diam, kini angkat suara. Tak suka dengan Alka yang memanggilnya semaunya.

"Serahlah. Kuy bantuin!"

Mega memutar bola matanya malas.

"Rain tuh yang suruh bantu! Perasaan kemaren cuma gue yang buat. Dia cuma modal nonton."

Rain yang tengah menguyah cemilan sontak menghentikan aktivitasnya. Menatap Mega, tajam. "Ngaco! Gue bantuin," sanggah Rain.

"Bantuin apa, doa?" Irene turut menyudutkan adiknya.

Rain mengerucutkan bibirnya.

"Ketahuan kan kalo bohong? Cepet bantuin gue!" perintah Alka.

"Lagian, ngapain Pramuka pake ada tugas ginian segala? Buat poster Trisatya, Dasadarma. Nggak bermutu," gerutu gadis itu. Namun, tak ayal ia turut membantu Alka menyelesaikan tugasnya.

"Sapa suruh ikut-ikutan jadi calon Bantara?" sahut sang kakak.

Rain tak menjawab. Lebih fokus pada tugasnya.

Alka tersenyum. Dapat ia rasakan napas hangat Rain berembus saat gadis itu berada tepat di sampingnya. Aroma khas tubuh cantik itu turut tercium indra penciumannya. Ia sedikit terperangah saat sebagian surai hitam itu jatuh menutupi wajah cantiknya.

"Jangan deket-deket gue," ujar Alka seraya menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga gadis itu.

Kegiatan Rain terhenti. Sejenak, ia mengamati wajah Alka. Beradu pandang dengan sepasang mata beriris hitam itu.

"Kenapa emang?" tanyanya.

"Ntar gue suka."

***

Alka menutup buku catatannya saat ia selesai menyalin catatan fisika milik sang kakak. Lelaki itu terdiam sejenak. Mengusap cover buku sebelum akhirnya membuka lembar belakang buku itu. Ia kembali mengambil pensilnya. Tangannya tergerak menari-nari di atas lembar itu. Sesekali sebuah senyum terbit tanpa sepengetahuan si pemilik.

Lelaki manis itu tersenyum lebar, setelah menulis rangkaian kata di bawah sketsa wajah yang baru saja ia gambar.

"Gue kok baru nyadar kalo lo cantik, sih?" Alka terkekeh.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang