12. Sosok Berbeda

10.3K 938 65
                                        

"Sarapan dulu Al!" Suara dari meja makan itu sontak menghentikan langkah Alka. Ia menoleh. Melihat sang kakak yang tengah menikmati sarapan paginya sendiri, tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Nanti aja di sekolah," jawabnya.

"Mama udah berangkat ke kantor. Katanya tadi buru-buru, jadi nggak sempat sarapan. Gue nggak biasa makan sendiri," ujar Alan.

Alka menghela napas panjang. Dengan enggan, ia beranjak mendekati sang kakak.

"Muka kusat kek gitu, kenapa Al?" tanya sang kakak saat Alka menarik kursinya untuk duduk.

"Nggak pa-pa."

"Insom lagi?" tanya Alan sembari menguyah roti.

"Hm." Alka hanya bergumam tak jelas.

"Den Alka mau mbok buatin susu cokelat apa putih?" tawar Mboh Ijah yang juga berada di sana. Menyiapkan sarapan untuk Alka.

"Teh anget," jawab Alka.

Mboh Ijah mengangguk paham. Wanita yang tak lagi muda itu segera beranjak ke dapur dan kembali dengan membawa secangkir teh yang masih mengebulkan asap.

"Masih sering mual?" tanya Alan tampak khawatir. Ia baru menyadari wajah pucat sang adik.

"Kadang," jawab Alka. Lelaki itu mengambil selembar roti yang sudah diolesi cokelat dan memasukkannya ke dalam mulut.

"Pucet banget," komentar Alan. Tangannya tergerak mengecek suhu badan sang adik dengan menempelkan punggung tangannya di dahi Alka. Mengernyit saat rasa hangat mulai menjalar ke punggung tangannya.

"Badan lo anget. Mau sekolah?" Alan menarik tangannya. Pandangannya masih terfokus pada sang adik yang tampak tenang menghabisakan sarapannya.

"Tumben diem," komentar Alan, lagi.

"Lo aja yang banyak omong," timpal Alka.

"Lo kenapa sih?" Alan mencengkram kedua bahu sang adik.

Alka membuang napasnya kasar.

"Nggak pa-pa."

"Bohong," sanggah Alan.

Lagi. Embusan napas kasar itu keluar dari laki-laki manis itu. "Gue nggak maksa lo harus percaya," timpalnya.

Alan menghela napas panjang. Kedua tangannya ia turunkan dari bahu sang adik. Beralih mengambil segelas susu putih dan mengosongkan isinya.

"Hasil tes kesehatan lo gimana? Dokter Danang udah telpon?"

Mendengar pertanyaan itu, tubuh Alka seketika menegang. Pagi ini ia telah membuang jauh-jauh ingatan percakapannya dengan dokter itu kemarin. Namun, Alan justru mengingatkannya pada kenyataan pahit itu.

"Udah," jawabnya singkat. Sekuat tenaga Alka mencoba menyembunyikan gerak-gerik tubuhnya yang mulai bergetar.

"Mana gue liat?" pinta Alan.

"Ilang." Alan sontak membulatkan matanya mendengar jawaban singkat itu.

"Kok bisa?" Alan sedikit meninggikan suaranya.

Alka hanya mengangkat bahu. Mencoba tak ambil peduli.

"Seharusnya kalo lo mau ngambil hasil tes itu, lo ajak gue."

"Lo bilang, lo sibuk belajar." Alan tercengang mendengar jawaban adiknya itu. Seharusnya ia lebih memperhatikan adiknya yang belakangan ini sering jatuh sakit. Bukan hanya sibuk mengurusi persiapan ujian nasionalnya yang bahkan masih dalam hitungan bulan.

"Hasilnya udah tau?" tanya Alan, lagi.

"Udah."

"Gimana?"

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang