Alan menghela napas lelah. Matanya kembali memandang Alka yang masih bergeming. Niatnya tadi ingin meminta bantuan sang ibu untuk membangunkan sang adik berakhir sia-sia. Malah luka yang ia dapat setelah mendengar tutur kata sang ibu.
Alan menggenggam jemari yang kini terasa dingin itu. Ini sudah tengah malam. Dan Alka benar-benar terlelap dalam tidurnya. Sang kakak tersenyum tipis. Memandang wajah pucat itu yang tampak tenang. Mungkin ini pilihan terbaik sang adik daripada harus menanggung luka jika kembali ke rumah. Lagi, Alan menghela napasnya. Selagi matanya belum terlepas dari wajah Alka.
"Keadaan Alka benar-benar down. Apa mungkin karena ada beban berat yang dipikulnya?" Alan masih terngiang pertanyaan Danang beberapa jam yang lalu.
Tentu. Bahkan mungkin takdir tak akan pernah membiarkan punggung ringkih itu kosong tanpa beban. Terlalu banyak masalah yang harus Alka hadapi. Mungkin itu alasan utama yang membuatnya betah tidur berlama-lama. Untuk sesaat menghindari takdir yang tak pernah puas memainkannya.
"Alka tengah dalam masa yang sulit. Kalau ia masih bisa membuka matanya," Alan ingat betul bagaimana Danang menjeda kalimat itu. Wajah sang dokter kala itu juga tampak putus asa, "jangan biarkan dia menanggung semua itu sendiri. Jangan membuat ia berpikir terlalu keras. Saat ini, yang terpenting adalah suasana hatinya. Saya bisa mengatur pengobatannya, tetapi saya sangat memintamu untuk menjaga perasaannya. Jangan biarkan ia memikul beban terlalu berat," ingatnya.
Sesak. Hal itu kembali terasa kuat menyiksa batinnya. Mengingat bagiamana perlakuan sang ibu selama ini, pantas jika Alka merasa lelah.
"Kak, menurut lo mana yang lebih sakit?" Sang kakak teringat akan pertanyaan terakhir yang Alka lempar. Matanya menatap tubuh sang adik yang semakin tak berisi. Alat medis masih terpasang rapi di tubuh yang lebih kecil darinya itu.
"Gue tau mana yang lebih sakit, Al," gumamnya. Senyuman getir tersungging di wajah tampan itu.
"Tapi percumakan kalo gue jawab? Toh, lo juga nggak butuh jawaban itu."
Masih sama seperti sebelumnya, tak terdengar jawaban dari sang adik.
"Gue juga capek, Al. Gue capek liat lo sakit terus." Suara Alan mulai terdengar bergetar. Alan membisu untuk beberapa saat. Mengatur emosi yang mulai kembali tersulut. Diembuskannya napas kasar beberapa kali untuk meredamnya.
"Mulai sekarang, gue janji ke lo. Gue nggak akan biarin lo sakit lagi." Alan mengeraskan rahangnya. Matanya terasa berembun saat otaknya kembali memutar kejadian dua puluh empat jam yang lalu. Saat dirinya mendapati Alka yang tak lagi berdaya dalam gendongannya. Saat dirinya hampir saja kehilangan sang adik. Dan Alan tak ingin kejadian itu terulang.
Alan memandang sang adik yang masih tampak berat untuk bernapas meski telah dibantu oleh sebuah alat. "Gue nggak akan biarin penyakit sialan ini nyiksa lo, Al," ucapnya, "gue juga nggak akan biarin Mama lukain perasaan lo," tambahnya.
***
Alka tak pernah mengerti. Saat kepingan-kepingan kejadian yang asing baginya itu harus kembali berputar di antara dunianya yang terasa gelap.
Bocah kecil itu, kembali Alka lihat keluar dari rumah. Dengan tangisan keras dan sesekali memanggil namanya jika ia tak salah dengar. Kaki mungil itu berusaha mengejar wanita yang melangkah lebar dengan menggendong bocah yang lebih kecil. Sebelum sebuah lengan besar menahan gerakan bocah yang berlari itu.
"Alan tunggu sini. Biar Papa yang ngejar adek, oke?"
Alka mengerutkan keningnya. Mengapa nama sang kakak juga turut disebut Sebenarnya apa ini? Di mana dirinya sekarang?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomansaCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
