19. Berguna

8.7K 984 121
                                        

Alka menuruni satu persatu anak tangga. Melanjutkan langkah ringannya menuju dapur dan tersenyum saat didapatinya punggung wanita yang tak lagi muda di sana. Berdiri membelakinya di depan kompor. Alka melangkah sepelan mungkin. Kemudian tangannya tergerak untuk menutup kedua mata milik wanita itu.

"Astaghfirullah!" kejut wanita itu.

Alka terkekeh. Kemudian membalikkan tubuh wanita itu.

"Den Alka bikin Mbok kaget aja." Mbok Ijah mengusap dadanya.

"Mbok aja yang kagetan," celetuk lelaki itu.

"Tangan Aden dingin banget. Jadi Mbok kaget," bela Mbok Ijah.

Alka mengamati kedua telapak tangannya. Kembali tersenyum kemudian menggosokan kedua tangannya. "Kena air wudhu. Habis sholat subuh," jawab Alka.

"Nggak tidur lagi, Den?"

Alka menggeleng. Matanya terfokus pada masakan yang tengah pembantunya itu masak.

"Masak apa Mbok?"

"Sup," jawab Mbok Ijah. Tangannya yang mulai keriput mengambil sendok untuk mencicipi masakannya.

"Kok sup?" Alka mengambil alih sendok dan turut mencicipi.

"Den Alan minta Mbok buatin sup," jawab Mbok Ijah.

"Sakit dianya?"

"Nggak. Pengen, gitu bilangnya,"

Alka terkekeh. "Kek orang ngidam aja," komentarnya.

"Aden mau Mbok masakin apa buat sarapan?" tanya wanita itu.

"Ini aja. Enak kok," jawab Alka. Lelaki itu beralih duduk di sebuah kursi.

"Mbok, Bunda kalo di kantor sempat makan siang nggak sih?" Alka menerawang.

"Mana Mbok tau," jawab Mbok Ijah.

"Kok Al lihat, Bunda jadi kurusan ya?" gumamnya.

"Aden yang kurusan. Tuh, pipi mbil-nya aja ilang." Mbok Ijah berbalik setelah mematikan kompor.

Alka menghela napas berat. "Masakin bekal buat Bunda yuk, Mbok?" ajak Alka, "Bunda 'kan orangnya sibuk, pasti nggak sempat keluar buat makan siang. Kalo ada bekal 'kan gampang," lanjutnya.

Alka tampak antusias. Ia bangkit dari duduknya. "Hehe... Alka kan belum bisa masak. Yang mudah buat apa ya, Mbok?"

Mbok Ijah berpikir sejenak. "Nasi goreng aja Den, yang gampang."

Alka mengangguk setuju. "Sip! Alka yang buat, Mbok yang bantu, ya?"

***

Alka tersenyum sembari mengelap tutup wadah makanan yang telah berisi nasi goreng buatannya. Atau lebih tepatnya, Mbok Ijah yang membuat dan lelaki itu yang merusuhi.

"Mbok, kasihin ke Bunda, ya? Bilangnya, Kak Alan yang buat spesial untuk Bunda. Gitu, ya?" pinta Alka.

"Kok bilangnya Den Alan yang buat?" tanya Mbok Ijah bingung.

"Udah bilang aja gitu. Kalo bilangnya Mbok yang buat--padahal aslinya gitu-- 'kan nggak spesial," jawab lelaki manis itu.

"Kok nggak bilang Den Alka yang buat? Kan tadi Aden yang bantuin Mbok."

"Udah bilang aja gitu. Al mandi dulu, keburu siang." Alka beranjak pergi. Sedangkan wanita yang tak lagi muda itu memandangi bekal itu, sendu. Ia tahu jika hubungan keduanya memang tak cukup baik. Entah atas alasan apa, Mbok Ijah sadar jika dirinya tak punya hak untuk mengetahui lebih lanjut.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang