40. Kecewa

9.7K 1K 184
                                        

Alka tersenyum saat Nina meletakkan telur mata sapi di piringnya. Segera, ia mengambil sendok.

"Bunda nggak bisa masak. Cuma bisa buat telur," ujarnya, "ini buat Kakak." Wanita itu beralih meletakkan lauk yang sama pada si sulung.

"Makasih Bun," ucap Alka. Berbeda dengan Alan yang masih bertahan dalam diam. Ia turut mengambil sendok. Menghabiskan sarapannya dengan tenang.

Nina menarik kursi di samping Alka. Memilih bergabung sarapan bersama kedua putranya. "Harusnya Adek istirahat dulu, Bunda temenin di rumah."

Alka menghentikan sarapannya. Mengambil tisu untuk menutup mulutnya dan mengeluarkan nasi yang tengah ia kunyah. Alan sontak menoleh. Was was akan raut Alka yang tampak berubah. "Asin," ujar Alka. Namun, Alan tahu jika itu sebuah kebohongan. Jelas jika wajah itu tengah berjuang menahan mual.

"Mau Bunda buatin menu lain?" tawar Nina.

Alka menggeleng. Memandang sang kakak sekilas sebelum beranjak, "Kebelet pipis," dustanya.

Nina mengangguk mengerti. Wanita itu berganti memandang putranya saat Alka berlalu.

"Kakak mau ke mana?" tanyanya saat dilihatnya Alan turut beranjak.

Lelaki jangkung itu tak menjawab. Mengambil langkah menyusul sang adik ke kamar mandi.

***

"Batu! Gue bilang nggak usah sekolah!" Alan menyilangkan tangannya di depan dada. Berdiri di ambang pintu meski matanya tak pernah lepas memandang punggung ringkih sang adik.

Alka mendongak. Memandang wajah pucatnya lewat cermin sebelum membasuhnya.

"Al...." Alan mengambil langkah mendekat.

"Kak...," panggil Alka.

Alan menghela napas berat. Berdiri di samping Alka dan turut memandang pantulan wajahnya lewat cermin. Tak banyak hal yang sama dari keduanya. Dari tinggi badan yang berselisih, wajah mereka pun tak menampilkan kemiripan. Hanya bentuk hidung dan alis mereka yang sama. Alan menyakini itu hidung ayahnya. Selebih setelah hidung dan alis adalah milik ibunya. Begitu juga Alka.

"Lo ganteng." Alka terkekeh pelan. Membandingkan wajah tampan sang kakak dengan wajahnya yang semakin tirus. Bibirnya yang kering pucat dan lingkar hitam di sekitar matanya mulai tampak.

"Lo Cocan." Alan turut terkekeh. Sengaja dirinya menggunakan nama panggilan itu.

Kening Alka berkerut dalam. Telinganya terasa tak lagi asing mendengar hal itu. Namun, kapan?

"Lupakan," ujar sang kakak. Ia tersenyum kecut. Sadar jika Alka tak mengingat hal itu.

Hening. Keduanya sibuk mengamati bayangan wajah masing-masing sebelum Alka kembali bersuara.

"Kak?"

"Hm?"

"Lo marahan sama Bunda?"

Tak terdengar jawaban. Membuat Alka menghela napasnya.

"Lo tau? Gue berusaha bangun bukan buat liat lo sama Bunda marahan," ujar Alka.

Alan masih membisu. Hatinya kembali berdenyut ngilu saat mengingat percakapan malam itu. Andai jika Alka mendengarnya, mungkin ia mengerti apa yang sang kakak rasakan.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang