Nina tersenyum lebar sembari mengacak surai hitam putranya. Sebuah kebiasaan sebelum ia pergi bekerja.
"Mama hari ini ke Bogor. Lagi banyak urusan. Nggak usah ditunggu pulangnya, mungkin besok pagi Mama baru pulang," pesan Nina.
Alan mengangguk mengerti.
"Belajar yang rajin. Jangan banyak main hp sama nonton tv. Kalo bobok jangan malam-malam."
Alan mendesah mendengar hal itu. Ia bukanlah seorang anak kecil lagi. Namun, Nina selalu memerlakukannya berlebihan.
"Mau titip sesuatu dari Bogor?" tawar wanita paruh baya itu.
"Nggak usah," jawab lelaki jangkung itu.
Nina mengacak surai Alan sekali lagi. Sebelum sebuah kecupan mendarat di pipi putih lelaki itu.
"Mama berangkat. Kalo ada apa-apa langsung telepon Mama. Okay?"
"Iya, Ma. Iya."
Nina terkekeh. Sepasang kakinya melangkah menuju pintu utama saat sebuah suara menghentikannya.
"Bunda!" Nina mematung mendengar panggilan itu. Setelah beberapa hari ini memilih diam di hadapannya, pemilik suara itu memanggilnya 'bunda'. Apa ia tidak salah dengar?
Langkah kaki lain terdengar mulai mendekat. Nina tak memutuskan untuk berbalik, tetapi ia yakin jika langkah kaki itu bukan milik Alan.
"Karena Bunda nggak ngijinin Alka manggil 'mama', jadi sekarang Al bakal manggil 'bunda'."
Nina mendesah kasar. Sedangkan lelaki manis itu tersenyum lebar. Ia melangkah lebar mendekati sang Bunda. Kemudian dengan cepat mengecup pipi kanan Nina saat Alka sampai di depannya.
"Have a nice day, Bun." Ia tersenyum lebar. Menampilkan deretan giginya yang tak terlalu rapi. Sedangkan Nina tetap mematung. Sentuhan bibir Alka di pipinya masih terasa nyata.
Tanpa memedulikan raut wajah Nina yang seakan tak percaya oleh kelakuannya, Alka berbalik. Melangkah pergi meninggalkan kedua orang yang masih mematung di sana.
"Gue berangkat dulu, Kak," pamitnya sembari memutar-mutar kunci motornya.
"Awal yang lumayan," gumamnya, pelan. Sebuah senyuman kembali terbit di wajahnya. Tak peduli jika seorang yang kini ia sebut bunda itu tak suka, ia tak akan memikirkannya.
Bukankah ia telah memikirkan hal itu malam tadi? Jika semua orang mengecapnya serakah akan kebahagiaan, ia akan memilih untuk menutup telinga. Menikmati sisa hidupnya dengan kebahagiaan yang ia bangun sendiri.
***
"Assalamu'alaikum!" Suara itu terdengar bersamaan dengan lelaki manis yang masuk melalui pintu kelas. Sepasang mata yang ada di dalam kelas sontak beralih pandang dari ponsel yang ia genggam.
"Tumben datang pagi?" komentar lelaki jangkung yang tengah menyandarkan punggungnya di dinding.
"Jawab salam gue dulu kali," ujar Alka.
"Ya udah. Ulang!" titah Farkhan.
Alka mendengkus. Namun tak ayal, ia kembali melangkah keluar kelas.
"Assalamu'alaikum!" ulangnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Farkhan. Keduanya terkekeh. Menertawai diri mereka yang terasa konyol.
"Tumben masih sepi." Alka mengambil langkah menuju bangkunya.
"Belum ada jam setengah tujuh, Al. Wajar kalo masih sepi," jawab Farkhan. Ia kembali memfokuskan pandangan ke layar ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomantikCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
