21. Hasil PTS

8.6K 926 76
                                        

Motor sport merah itu melaju lambat membelah jalan yang belum ramai. Hawa dingin masih terasa walau jaket telah membelit tubuh. Alka menghentikan motornya saat sepasang matanya tak sengaja menangkap sosok berseragam putih abu-abu yang tak lagi asing.

"Erick?" gumamnya.

Alka menepikan motornya. Memarkirnya di bahu jalan kemudian mengambil langkah mendekati lelaki bertubuh tinggi itu. Sedikit merasa aneh mendapati sosok itu di sana. Duduk termenung di atas motornya dengan bara rokok yang telah padam.

"Kak Erick?" Walau embel-embel 'Kak' terdengar aneh. Namun tanpa ragu, sapaan itu keluar dari bibir tipisnya.

"Kak Erick?" ulangnya.

Lelaki bernama Erick itu tersentak saat Alka menepuk pundaknya. Seakan baru tersadar jika sosok adik kelasnya kini berdiri di sampingnya.

"Ngapain lo di sini?" tanya Erick tajam. Matanya memandang tak suka Alka yang kini mulai menarik sudut bibirnya.

"Gue mau pergi ke sekolah trus nggak sengaja liat lo," jawab lelaki manis itu.

Erick tak peduli dengan jawaban itu. Lelaki berseragam kusat itu membuang rokoknya. Berniat kembali memakai helmnya.

"Kak...."

"Kak?" Erick merasa aneh dengan sapaan yang keluar dari sang adik kelas.

"Sorry." Alka mengulurkan tangannya.

Erick menatap Alka sejenak. Rasa tak mengerti akan permintaan maaf Alka tersembunyi oleh tatapan tajamnya.

"Gue bilang, sorry," ulang Alka.

Erick urung memakai helmnya.

"Buat masalah itu. Harusnya gue nggak ikut campur urusan lo sama Rain," tambahnya.

Erick mengangkat satu sudut bibirnya. Mencetak sebuah senyuman miring. "Gue nggak punya waktu buat bahas hal sepele kek gitu," tanggap Erick.

"Tapi lo punya waktu buat ngelamun," timpal Alka, "di pinggir jalan lagi," tambahnya.

Erick menikam Alka dengan tatapan tajamnya. "Lo mau cari masalah lagi sama gue?"

"Gue cuma mau minta maaf," jawab Alka, tulus. Tak ada rasa takut dalam nada suara itu.

"Mau maafin gue?" Alka kembali mengulurkan tangannya.

Erick mengamati uluran tangan itu penuh selidik.

"Gue nggak punya waktu banyak. Dan waktu itu, nggak akan gue buang percuma buat saling membenci. Mau maafin gue?" ulang Alka.

Erick tak ambil peduli. Mengabaikan uluran tangan itu dan memilih memakai helmnya. Melajukan motornya meninggalkan Alka yang masih terdiam di tempatnya.

Alka mengibaskan tangannya yang terasa pegal. "Jadi itu sisi lain lo?" gumam lelaki itu.

***

"Assalamu'alikum!"

Suara itu terdengar bersamaan dengan dua tubuh yang masuk melalui satu pintu sekaligus. Diikuti oleh kekehan ria dari kedua tubuh yang berdesakan untuk lebih dahulu masuk.

Rafa mendongak. Tepat seperti dugaannya, dua sosok teman konyolnya itu yang berucap salam. Diikuti oleh Irfan yang mengambil langkah di belakang dengan santai.

"Gimana PTS-nya bro?" Farkhan menepuk keras pundak lelaki berambut kemerahan itu.

"Empat puluh sembilan persen berhasil," jawab Rafa.

Farkhan tertawa mengejek sembari mengambil tempat duduk di atas meja. Sedangkan Alka memilih menggeser tubuh Rafa agar ia dapat duduk.

"Pusing gue mikirin tuh soal." Rafa mengacak rambutnya frustasi.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang