Plak!
Dengan ringan, tangan itu kembali mendarat di pipi milik remaja berseragam putih biru. Nina tak lagi dapat menguasai emosinya. Matanya tampak merah dan mulai berkaca-kaca. Sarat akan amarah yang tak lagi dapat dibendung.
"Puas kamu? Setelah membunuh ayahmu, kamu juga mau bunuh temanmu?" Nada tinggi itu menggema mengisi ruangan tempat keduanya berada.
Alka menunduk. Tangan kanannya masih memegang pipinya yang terasa panas. Ingin rasanya ia menyanggah semua yang sang ibu katakan. Namun, nyatanya ia hanya mampu terdiam. Menjadi pendengar yang baik meski suara itu sebenarnya tak layak untuk didengar.
"Kamu di sini itu cuma numpang! Nggak usah ngerepotin!" sentak Nina, lagi.
Tangan kiri Alka meremas celana birunya. Jujur, ia tak mengerti apa yang sang ibu itu katakan. Saat kata-kata yang keluar dari wanita itu seakan mengatakan bahwa dirinya orang asing di sini.
"Rafa itu anak Fara! Orang yang membesarkanmu! Apa kamu nggak malu, hah? Di mana rasa terima kasihmu?"
Alka masih bertahan dalam diam. Pikirnya sejenak mengelana. Mengingat kejadian beberapa saat yang lalu ketika ia terlibat perkelahian dengan seorang yang bernama Rafa itu.
"Gue iri sama lo, Al! Mami selalu lebih mentingin lo dari pada gue." Alka tersenyum, miris. Mengingat kalimat itu yang menyulut emosi keduanya hingga terjadilah adu kekuatan.
"Justru harusnya gue yang iri sama lo, Raf. Lo masih punya keluarga lengkap. Punya ibu yang sayang sama lo," batinya.
"Kamu dengar?" Suara itu menarik Alka ke alam nyata.
Alka mengangguk, samar.
"Kalau kamu masih berbuat macam-macam, silakan pergi. Jangan pernah kembali ke rumah ini! Jangan merepotkanku lagi," tukas Nina.
Wanita itu berbalik. Berlalu meninggalkan si bungsu yang masih terpaku di tempatnya.
Samar, Nina mendengar Alka bergumam, "Emang gue harus pergi ke mana?"
***
Wanita itu tampak gelisah dalam tidurnya. Peluh menetes membasahi wajahnya yang kini putih pucat. Ingin ia membuka mata. Keluar dari kepingan kejadian yang selalu terasa sesak saat teringat. Namun, tak ada hal apapun yang dapat wanita itu lakukan. Hanya kepingan-kepingan kejadian pahit yang selalu berputur mengisi mimpinya.
Lenyap sesaat, sebelum berganti kepingan pahit yang terasa lebih sakit.
***
"Dia istri keduaku. Mulai sekarang, Sarah dan Alka akan tinggal di rumah ini."
Jantung Nina seakan berhenti berdetak kala itu. Saat dengan mudah sang suami menjawab pertanyaan besar miliknya kala melihat wanita itu. Nina masih tak dapat memercayai hal ini. Ia menggeleng pelan. Mencoba tertawa walau terdengar hambar.
"Apa ini? Saat wanita itu menghilang bertahun-tahun, tanpa angin, tanpa hujan, dia kembali datang dan mengaku sebagai istri kedua suamiku," batinnya.
"Mas ini ngomong apa? Ada-ada saja." Nina terkekeh pelan. Namun, wajah Hermawan tak berubah. Datar. Sarat akan keseriusan.
"Sar...." Nina menoleh ke arah wanita yang kini menunduk.
"Kamu ngerti maksud suami aku?" tanyanya.
Wanita bernama Sarah itu mengangkat wajahnya. Mempertemukan sepasang mata beriris hitam miliknya dengan sepasang mata milik wanita bernama Nina.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomansaCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
