Fara membuka pintu kamar putranya. Menemukan Alka tengah mengenakan jaket yang ia dapat dari lemari sahabatnya itu. Wanita paruh baya itu menghela napas, sejenak sebelum memutuskan menemui putra sahabatnya itu.
"Al udah bangun?" tanya Fara. Wanita itu telah dibuat khawatir saat Rafa membawa pulang Alka ke rumah ini dalam keadaan tak sadarkan diri.
Alka tersenyum singkat. Merapatkan jaket yang telah melekat di tubuhnya.
"Mau makan malam di bawah apa Mami antarin ke sini?" tanya wanita itu, lembut.
"Nggak usah." Alka menjawab lirih. Ia kembali duduk di tepi kasur. Meluruskan kaki-kakinya yang masih terasa lemas.
"Malam ini Alka tidur sini, kan?"
Fara mengambil tempat duduk di samping Alka. Keningnya berkerut dalam saat punggung tangannya menyentuh kening Alka yang terasa panas.
"Al tidur di rumah aja. Ini mau pulang tapi kok masih lemes, ya?" Lelaki itu terkekeh pelan.
Nyeri hati Fara melihat wajah pucat itu masih mencoba terlihat ceria. Tangannya kembali tergerak menyentuh pipi kanan Alka. "Ini tadi kena pukul?"
Alka meringis saat tangan lembut Fara menyentuh bekas tamparan dari sang bunda. "Jangan disentuh. Ntar bekasnya hilang." Ia menurunkan tangan Fara dari wajahnya.
Fara mengembuskan napas kasar. "Al tidur sini aja, ya? Badan Alka panas banget. Biar Mami yang rawat. Besok kalo udah enakan, biar Rafa antar pulang."
Alka menggeleng pelan.
"Al...."
"Mih," potong Alka, "kalo Alka nggak pulang, berarti Al ngindarin Bunda dong?" Alka kembali menarik senyumnya.
Lagi, Fara mengembuskan napas kasarnya.
"Mami tau kan kalo Alka nggak suka lari dari masalah? Biar Al selesain masalah Al sama Bunda dulu. Ntar Alka nginep sini kalo masalahnya udah kelar, okay?"
Alka berniat bangkit. Menyeret paksa kakinya yang belum puas beristirahat.
"Ada yang mau Papi omongin juga ke Al," ujar Fara. Ia mengambil langkah di samping lelaki itu. Berjaga-jaga jika tubuh itu kembali tumbang.
"Di mana?"
"Ruang tengah."
Alka mengangguk. Berbelok menuju ruang tengah dan mendapati Rafa yang juga berada di sana.
"Udah enakan?" tanya Rafa.
"Dingin," jawab Alka singkat. Ia mengambil tempat duduk di samping Arya--ayah Rafa.
"Papi mau ngomong sesuatu ke Al?" mulai Alka.
Arya mengangguk.
"Masalah tadi biar Papi yang urus," ujar Arya.
Alka mengagguk, mengiyakan.
"Dan masalah Al sama ibu Alka," Arya menjeda kalimatnya, "biar Papi juga yang selesain."
"Maksud Papi?"
"Papi mau, mulai sekarang Alka tinggal di sini, nemenin Rafa," putusnya.
Alka terdiam beberapa saat sebelum menggeleng pelan. "Nggak. Siapa yang nemenin Kak Alan kalo Al tinggal di sini?"
"Kalo Alka mau tinggal sama Kak Alan, Papi bisa suruh Kak Alan tinggal di sini sekalian," jawab pria paruh baya itu. Ia tak lagi tahan mendapati perlakuan Nina terhadap remaja di depannya ini. Maka dari itu, ia berniat mengasuh Alka. Mengobati luka remaja itu.
"Terus Bunda?"
Arya membuang napas kasar. Mengapa anak itu masih saja memikirkan bundanya yang jelas-jelas tak pernah mengharap kehadirannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomanceCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
