Kaos pink dan celana jins panjang, serta rambut tergerai Shasa pergi jalan bersama pacar yang merupakan tambang emasnya. Adi.
Adi itu telah berjanji akan membelikannya tas baru, dari itu meskipun panas matahari menyengat Shasa rela bepanas-panasan di atas motor menuju salah satu mall yang biasanya menjual tas branded.
"Sayang, nanti malam kita dinner bareng ya.". Ajak Adi sambil mengikuti langkah Shasa yang sedang memilih-mili tas dari belakang.
"Hemm" gumam Shasa. Shasa tidak begitu fokus mendengarkan Adi, malah sibuk dengan tas branded yang berjejer di depan matanya.
"Nanti malam dinner bareng." Ulang Adi sedikit memberi penekanan pada kalimatnya.
"Kemana?" tanya Shasa pelan setelah menoleh sebentar pada Adi.
"Ada kafe italia yang baru dibuka, aku pengen ngajak kamu kesana."
"Boleh." Jawab Shasa singkat sembari terus memilih-milih tas. Ambil yang mahal mumpung lagi sama bossnya.
Beberapa menit kemudian, matanya jatuh pada tas hitam cantik dengan harga di atas kemampuan pacarnya.
"Aku pengen beli ini." Ucap Shasa kemudian pura-pura melihat harga tas yang sebenarnya dia sudah tau "Eh tapi nggak deh kemahalan." Lanjutnya pura-pura. Kemudian meletakkan kembali tas tersebut.
"Ya udah cari yang lain aja dulu sayang." Ucap Adi setelah melihat harga tas dan membuatnya bergidik ngeri.
Shasa menganggukkan kepalanya, namun sedikit cemberut.
Bukan Shasa namanya kalo melepaskan begitu saja tas yang merupakan cinta pertamanya.
Shasa berpura-pura kembali berkeliling mencari tas yang lain. Tapi sudah 2 kali Shasa berputar-putar di tempat tas branded berjejer, ujung-ujungnya ke tempat tas yang barusan. Lagi dan lagi.
Dengan tampang sedih disentuhnya lagi tas hitam cantik itu, dan diletakkan kembali. Begitu seterusnya sampai Adi pusing mengikuti Shasa tapi tidak ada satupun tas yang dipilihnya dan dengan terpaksa dia harus membeli satu-satunya tas yang diinginkan Shasa.
Terakhir kali Shasa menyentuh Tas itu dengan tampang cemberut dan kecewa karena tidak bisa membelinya, tapi nggak enak mau bilang langsung, harganya itu loh bisa menguras habis tabungan pacarnya. Tapi mah bodo amat. Tas itu harus di dapatnya meskipun harus berpura-pura cari tas yang lain dan membuat kakinya pegal.
"Ya udah beli yang itu aja sayang" Ucap Adi. Shasa hanya tersenyum, tapi berusaha disembunyikan senyumannya. Kemudian menoleh dan pura-pura kaget, padahal semuanya sudah direncanakannya.
"Eh jangan sayang, nanti tabungan kamu bisa habis." Ucap Shasa pura-pura peduli. Padahal aslinya mah bodo amat.
"Nggak kok nggak. Kalo buat kamu mah apa aja bakalan aku beliin. Daripada kamu ambil tas yang lain tapi nggak dipakek dan kamu nggak puas, kan sayang." Ucap Adi. Padahal aslinya Adi ngeri liat harga tasnya.
"Duh makasi ya sayang, kamu baik banget." Ucap Shasa berpura-pura sangat berterima kasih.
Dengan perasaan bahagia full karna keinginannya membeli tas hitam cantik yang merupakan cinta pertamanya terpenuhi, Shasa meminta pelayan membawanya ke kasir. Dan tentu saja Adi yang harus bayar.
Setelah urusannya di mall merekapun pulang, padahal rencananya sebelum pulang mereka mau makan siang dulu, tapi berhubung isi dompet Adi sudah sangat-sangat kritis jadi terpaksa mereka pulang.
"Sayang ikut aku dulu ya." Ajak Adi ketika mereka sudah sama-sama berada di atas motor.
"Kemana?" tanya Shasa.
"Ke tempat papa kerja."
"Eh ngapain?" tanya Shasa sedikit kaget.
"Mau ngisi dompet."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gold Digger Fall In Love
Teen FictionTentang seorang gadis SMA yang mempunyai sifat matrek dan berubah sejak pacaran dengan anak baru di sekolahnya. Tentang rasa sakitnya mendapatkan cinta tidak tulus. Ikuti ceritanya gaes...!!!
