Jam 3 sore.
Shasa menghias dirinya di depan kaca dengan menggunakan baju jumpsuit pink selutut, semakin memancarkan aura kecantikannya.
Sore itu Shasa ada janji akan menemani Iqbaall fitness disalah satu tempat fitness di Jakarta.
Rumahnya sedang sepi, mama papanya sedang pergi kondangan, sementara kakaknya belum pulang kuliah.
Tiba-tiba ada yang mengetuk bel pintu rumahnya. Shasa tersenyum sumringah berharap Iqbaallah yang sudah datang menjemputnya.
Kemudian dengan cepat Shasa berjalan menuju lemari sepatunya dan mencari sneakers pink.
Cukup lama Shasa mencari sepatunya, tapi tak juga ditemukan. Shasa sampai takut kalau Iqbaal akan menunggunya terlalu lama. Sampai Akhirnya Shasa meminta pembantunya untuk membukakan pintu.
“Bi bukain pintu, ada tamu.” Teriak Shasa meminta pembantunya membukakan pintu rumahnya.
Ditengah mencari sneakersnya, Shasa diam sebentar menghentikan aktivitas mencari sepatunya ketika Shasa menyadari pembantunya tidak juga menyaut.
“Bibi kemana sih.” Gerutu Shasa.
Kemudian turun sendiri menuju pintu rumahnya untuk membukakan pintu dengan menenteng sepatu putihnya, karna dia tidak berhasil menemukan sneakers pinknya, dengan terpaksa Shasa mengambil sepatunya asal.
Shasa kaget setelah membuka pintu rumahnya begitu mendapatkan yang datang bukanlah Iqbaal, melainkan Fanya. Anak Ips yang pernah mengungkapkan perasaannya pada Iqbaal.
“Fanya !!. Ada apa?.” Tanya Shasa.
“Gue mau minta tolong Sha, mama gue sakit, mobil gue macet.” Ucap Fanya gugup, dengan keringat mengucur dari kepalanya dan wajah dipenuhi kekhawatiran.
“Tenang Fan, sekarang mama lo ada di mana?.” Tanya Shasa sambil memegangi kedua tangan Fanya.
“Mama gue ada di komplex dekat sini, gue minta bantuan anterin gue kerumah sakit Sha.” Pinta Fanya memohon.
Shasa melirik jam tangannya dengan wajah khawatir, tinggal 5 menit lagi, Iqbaal berjanji akan menjemputnya.
“Fan lo bawa mobil gue aja yaa, gue harus…” Tak sempat Shasa melanjutkan perkataannya, Fanya sudah memotongnya.
“Gue gak mau terjadi apa-apa sama mama gue Sha, please ayok.” Ajak Fanya sambil menarik-narik tangan Shasa.
Melihat wajah Fanya yang ketakutan. Shasa terdiam sejenak, sampai akhirnya Shasa menganggukkan kepalanya.
“Oke oke, lepasin dulu gue mau nutup pintu.”
Dengan terburu-buru Shasa menutup pintu rumahnya, kemudian berjalan cepat menuju garasi mobilnya, menyuruh Fanya masuk dan melesakkan mobilnya dengan cepat keluar gerbang rumahnya.
Sementara Iqbaal sudah sampai di depan gerbang rumah Shasa, tepat ketika mobil Shasa keluar dari rumahnya. Iqbaal segera menelfonnya begitu dia melihat mobil Shasa keluar. Namun Sudah 2 kali Iqbaal menelfonnya, tapi tidak juga Shasa mengangkatnya.
Dengan hati dongkol, Iqbaal melajukan kembali mobinya berniat mengikuti mobil Shasa.
Fanya mulai menunjuk jalan yang harus Shasa tempuh. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah jalanan sepi dan di sisi kanan jalan terparkir mobil Fanya.
Shasa terdiam sejenak sebelum turun dari mobinya, pikirannya mulai negative yang berusaha ditepisnya.
“Loh kok dijalanan sepi, bukannya tadi Fanya bilang di sekitar komplek rumahnya". Batin Shasa.
Ketika Fanya dengan terburu-buru keluar mobilnya, dengan terpaksa Shasa ikutan turun dan mengikuti langkah Fanya dari belakang.
Sesampainya di dekat mobil Fanya, Fanya segera memasuki mobilnya sendiri, sementara Shasa tetap berdiri diluar memperhatikan.
Dan betapa kagetnya Shasa ketika dari pintu belakang keluar Adi, tubuhnya sampai terhuyung ke belakang ketika Adi memeluknya secara tiba-tiba.
bersamaan dengan itu, mobil Iqbaal sudah berhenti di belakang mobil Shasa dan melihat kejadian itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gold Digger Fall In Love
Teen FictionTentang seorang gadis SMA yang mempunyai sifat matrek dan berubah sejak pacaran dengan anak baru di sekolahnya. Tentang rasa sakitnya mendapatkan cinta tidak tulus. Ikuti ceritanya gaes...!!!
