Iqbaal berjalan tanpa rasa malu menggendong Shasa ditengah ramainya pengunjung mall. sementara Shasa Begitu menyadari banyak pasang mata melihat ke arah mereka, Shasa menyembunyikan wajahnya di leher Iqbaal, memeluknya lebih erat. Lain hal dengan Iqbaal yang masa bodo.
"Ke restoran?." Tanya Iqbaal.
Shasa menggelengkan kepalanya tanpa mengangkat wajahnya.
"Tirta dimana?."
"Ada di restoran. tapi nanti aku kasik tau dia kalo aku pulang duluan." Shasa diam sebentar. kemudian mengangkat wajahnya "Aku mau pulang sama kamu." Pinta Shasa. kemudian kembali menenggelamkan wajahnya ke leher Iqbaal.
Sementara Iqbaal diam memikirkan Kaela yang sedang ada di dalam. bingung menyerangnya saat itu juga, tapi melihat kondisi Shasa akhirnya dia mengiyakan dan membawa Shasa menuju mobilnya sekaligus berniat membawa Shasa kerumah sakit.
"Gimana, nyaman enggak?." Iqbaal menanyakan posisi duduk Shasa di dalam mobilnya.
Shasa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Kemudian Iqbaal menutup pintu mobil disebelah Shasa. kemudian Iqbaal menjauh dari mobilnya dan menelfon Kaela.
"Halo, baal kamu dimana?." Tanya Kaela begitu telfon sudah tersambung.
"Kael kamu pulangnya naik taksi yaa, aku ada urusan."
"Tapi makanannya gimana?."
"Dibungkus juga gapapa, nanti aku yang bayar. Oke udahan yaa."
Sambungan telfon langsung diputus tanpa persetujuan Kaela. Lalu Iqbaal langsung kembali menuju mobilnya.
"Ke dokter dulu yaa." Pinta Iqbaal setelah masuk dan menutup pintu sebelahnya.
Shasa menganggukkan kepalanya, karna jujur kakinya memang benar-benar terasa sakit.
Iqbaalpun membawa Shasa kerumah sakit langganan keluaganya.
Sesampainya dirumah sakit Iqbaal kembali menggendong Shasa menuju dokter langganannya. setelah urusannya selesai, dan Shasa diberi beberapa salep serta dipijat-pijat sedikit, Iqbaal kembali membawa Shasa kedalam mobilnya dan mengantar pulang.
"Masih sakit enggak?." Tanya Iqbaal begitu sudah sampai di depan rumah Shasa.
Rumah Shasa sepertinya sedang sepi, karna garasi mobil dirumah Shasa kosong, dipastikan kedua orang tuanya sedang keluar.
"Masih sedikit." Jawabnya.
Iqbaal kembali menggendong Shasa memasuki rumahnya. Sesampainya di ruang tamu, Iqbaal menghentikan langkahnya.
"Aku antar ke kamarnya gapapa?." Tanya Iqbaal begitu sudah sampai di ruang tamu. Harus ditanya dulu memang. Meskipun dia sudah pernah mengantar Shasa langsung ke kamarnya waktu sedang tidur. tapi kali ini Shasa dalam keadaan sadar, jadi harus minta izin biar enggak dibilang kurang ajar.
Shasa menganggukkan kepalanya mengingat dia akan kesusahan masuk ke kamarnya dengan kondisi kakinya yang sekarang. Apalagi menaiki tangga, udah gitu rumahnya sedang sepi, jadi meminta Iqbaal mengantarnya kekamarnya adalah pilihan yang paling pas.
Setelah mendapat persetujuan dari Shasa, Iqbaalpun membawa Shasa menuju kamarnya.
"Aduh non Shasa kenapa?." Tanya pembantunya ketika Iqbaal membaringkan Shasa di kasurnya.
"Kesleo bi." Jawab Iqbaal sambil tersenyum "Oh ya bi, boleh minta tolong ambilkan air es nggak?." Tanya Iqbaal.
"Iya den, bentar ya." Pembantu Shasapun keluar menuju dapur untuk mengambil air es. Sementara Iqbaal duduk di bibir ranjang, dan Shasa duduk tersenyum memandang Iqbaal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gold Digger Fall In Love
Teen FictionTentang seorang gadis SMA yang mempunyai sifat matrek dan berubah sejak pacaran dengan anak baru di sekolahnya. Tentang rasa sakitnya mendapatkan cinta tidak tulus. Ikuti ceritanya gaes...!!!
