Mobil Iqbaal yang mengantar Shasa berhenti di depan rumahnya. Shasa langsung turun setelah mengucapkan rasa terima kasihnya. Setelah mobil itu pergi, Shasa buru-buru masuk kedalam rumahnya.
Di dalam kamar, Shasa duduk memeluk lutut dengan kedua tangan memandang lurus ke lantai, TV yang ada di kamarnya dia biarkan nyala. Perlakuan Iqbaal barusan membuatnya bingung dan entah, dia semakin nelangsa mengelus kepalanya sendiri, bagian yang selalu di usap Iqbaal dan membuatnya nelangsa susah move on.
Shasa menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. dengan mata masih menatap lantai.
Hari yang tadinya cerah berubah mendung. Kemudian Shasa bangkit dari duduknya, siap-siap dengan kebiasaannya jika tidak keluar rumah dan di luar sedang mendung akan hujan, tiduran sambil memainkan ponsel sampai benar-benar terlelap.
Deru motor yang dipacu kencang terdengar dari kejauhan. lama-lama semakin dekat memasuki halaman rumah Shasa dan akhirnya berhenti di depan rumahnya. Alis Shasa bertaut, bingung siapa yang datang saat hari sedang mendung.
Shasa langsung mengintip dari jendela kamarnya. Dia langsung kaku ditempat begitu mengetahui siapa yang berdiri di sebelah motor besar itu. Tirta.!!
Shasa terpana dengan mulut ternganga saking tidak percayanya, Shasa buru-buru turun dan keluar.
"Tirta." Sapanya.
"Hai Sha, lama enggak ketemu. gimana kabar kamu?." Tanya Tirta tanpa basa-basi.
Cowok di hadapannya masih tetap sama seperti dulu, masih cakep dengan tubuh tinggi, rambut ala TNI, dengan bahu lebar dan tatap mata yang sayu menusuk.
"Aa..k..kuu..uu Baik." Jawab Shasa gugup, menelan ludahnya sendiri.
Dan Tirta tersenyum masih dengan gaya santainya, tidak peduli betapa gugupnya gadis yang kini ada dihadapannya.
"Kamu cari siapa?." tanya Shasa kemudian ketika Tirta melihat kedalam rumahnya, seperti sedang mencari-cari seseorang.
"Mama sama papa kamu mana?."
"Nggak ada. Kamu kapan pulang?." Tanya Shasa akhirnya. berusaha menyembunyikan rasa gugupnya sendiri.
"Nggak penting kapan aku pulang." Jawabnya tegas.
"Kenapa?" Tanya Shasa gugup.
"Yang penting itu kenapa aku pulang." Tirta diam sejenak, menatap Shasa dengan mata sayunya "Aku kangen kamu Sha." Ucapnya pelan dan terlihat tulus.
Shasa kontan terpana. Meskipun terasa wajar Tirta kangen padanya karna sudah lama tidak pernah bertemu, tapi ekspresi dan menjadi tujuan utama Tirta pulang adalah dirinya, membuat Shasa sedikit kaget dan terpana.
"Aku, eh..makasih Tir."
"Aku tau, tau kamu nggak kangen aku kan? tapi gapapa. aku tetep kangen kamu Sha." Tirta tersenyum dengan makna tak terbaca.
Shasa tidak tau, dari jarak yang tak terlalu jauh, sepasang mata tajam mengawasi mereka. Dan meskipun Kaela tidak dapat mendengar suara mereka, tapi melihat ekspresi Shasa yang terasa gugup dan gelisah membuatnya tersenyum sempurna.
"Sorry kalo aku ganggu kamu Sha, aku cuma pengen liat kamu. Pengen tau keadaan kamu. Liat kamu baik-baik aja dan tumbuh dengan baik dan menjadi cantik membuatku bisa bernafas lega."
Shasa tersenyum menanggapi, senyum masih dengan wajah terlihat kaku. terlebih lagi saat Tirta menepuk-nepuk motornya sendiri, motor yang pernah menjadi saksi terjadinya kenangan dengan dirinya. Meskipun Shasa sama sekali tidak mencintainya, tapi jauh dalam hatinya dia masih mengingat dengan baik kenangan masa lalu bersama Tirta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gold Digger Fall In Love
Teen FictionTentang seorang gadis SMA yang mempunyai sifat matrek dan berubah sejak pacaran dengan anak baru di sekolahnya. Tentang rasa sakitnya mendapatkan cinta tidak tulus. Ikuti ceritanya gaes...!!!
