4 - Firasat I

2.3K 171 6
                                    

Setiap orang pasti memiliki firasat terhadap suatu hal. Firasat sejalan dengan hati nurani manusia, tapi terkadang firasat yang dirasakan selalu ditolak mentah-mentah oleh logika. Inilah yang kadang aku alami ketika aku mendapatkan sebuah firasat. Terkadang, aku tidak percaya dengan firasat tersebut dan menguburnya dalam pikiran nalarku. Kurasa, hal itu hanya datang dari perasaan negatif yang tidak mau berpikiran positif. Padahal, jika aku mau menelaah lebih dalam dan menganalisisnya, feeling itu bisa digunakan untuk dijadikan pesan yang harus disampaikan sebagai sebuah pertanda.

Aku pernah beberapa kali mengalami dilema antara benar dan tidaknya sebuah firasat. Aku juga pernah memendam firasat tersebut, bahkan sering. Dan hal tersebut justru membuat kecamuk dalam batin ini dimana pikiran dan hati yang tidak saling bekerja sama untuk menerima firasat tersebut. Hati nurani tak dapat menolak sebuah firasat yang datang dari naluri indigo. Tetapi pikiran selalu menolak dengan logikanya yang lebih mengedepankan realitas dan mengesampingkan kemampuan indigo yang berkaitan dengan hal-hal mistis atau gaib.

Setelah apa yang kurasakan pada akhirnya terjadi, terkadang aku menyesal kenapa tak dari awal aku ingatkan mereka. Mungkin aku terlalu banyak berpikir, atau tidak percaya. Jika aku ini benar indigo, apakah aku harus selalu mengatakan apa yang menjadi firasatku? Aku hanya takut jika aku mengatakan sesuatu hal tersebut kepada orang yang bersangkutan, ia justru akan tersugestikan dan pada akhirnya hal tersebut benar menimpanya. Atau yang lebih parahnya lagi, aku takut ia malah mempercayaiku. Padahal, semua yang terjadi sudah atas kehendakNya. Aku hanya bisa mengingatkannya saja melalui tanda-tanda yang Tuhan berikan kepadaku agar mereka berhati-hati.

Firasat......

Firasat itu munculnya secara tiba-tiba tanpa ku ketahui dari mana arah datangnya perasaan tersebut. Yang jika ku abaikan, akan membuat kepalaku sakit karena mengganggu pikiran dan dada terasa sesak. Jika ku katakan atau aku ceritakan, maka rasa tidak nyaman itu berangsur-angsur menghilang dan berubah menjadi perasaan yang melegakan.

Firasat juga tidak selalu dapat diketahui kepada siapa firasat itu ditujukan. Seringkali, aku mengalami kebingungan ketika mendapatkan sebuah firasat yang hanya kudapatkan sepotong kalimat saja. Awalnya aku diam, berusaha melupakan firasat tersebu. Tapi, semakin aku mengabaikan, firasat itu justru semakin menguat di dalam batin ini.

"Tepat pukul 7 malam"

"Hindari bepergian dengan kereta api"

"Jangan keluar rumah"

"Jangan memakai baju warna cokelat"

"Angka 27"

"Jangan pergi berwisata ke daerah gunung"

"Hati-hati dengan gelombang air"

Hal-hal tersebut terkadang muncul secara tiba-tiba seperti alarm yang tidak menginginkanku untuk ceroboh dalam melakukan sesuatu hal. Tapi tetap saja, terkadang manusia selalu saja lupa dengan sebuah pesan. Apalagi pesan yang datangnya hanya dari sebuah firasat mata batin, yang belum tau apa kebenarannya. Jika ku utarakan, maka aku sama saja akan menebarkan berita hoax di lingkungan masyarakat sekitar. Karena itulah, seringkali aku sendiri tidak memercayai apa yang menjadi firasatku.

Jika aku sendiri saja tidak percaya, bagaimana orang lain akan mendengarkanku?

Tapi lagi-lagi aku melakukan kesalahan. Entah mengapa, aku lebih sering merasa bersalah terhadap sebuah kejadian yang terjadi di lingkungan sekitar. Aku pernah merasa terpukul akan firasat ini.

***

"Mara Bahaya"

Aku pernah merasakan tidak enak hati. "Tepat pukul 7 malam." Behari-hari firasat itu muncul secara tiba-tiba seperti sebuah alarm yang bahkan membuatku tidak nafsu makan hanya karena terngiang-ngiang memikirkan satu kalimat itu. Selain firasat itu, mata batin ini menambahkan kegelisahan. Satu hari sebelum kejadian, aku berusaha untuk tertidur.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, bahkan hingga jam 3 dini hari, mata ini tidak kunjung lelap tertidur. Mata batin ini malah menambahkan kegelisahanku tentang jam 7 malam nanti. Entah apa yang akan terjadi, mata batin ini memberikan gambaran atau bayangan yang sulit untuk ku jelaskan seperti apa bentuknya, gambaran tersebut menggambarkan sebuah kecelakaan. Aku takut, sangat takut sekali. Aku hanya bisa berdo'a semoga firasat ini salah besar dan berharap aku bisa tidur nyenyak malam ini.

Aku tidak tidur semalaman, dan esoknya aku harus bersekolah dengan keadaan lesu. Sepulang dari sekolah, aku kembali memikirkan kalimat "Tepat jam 7 malam". Aku khawatir dengan anggota keluargaku.

Sebelum berangkat sekolah, sebenarnya aku sudah menanyakan kepada orang tuaku "Pak, Bu, apa ada keluarga kita yang akan pergi melakukan perjalanan jauh ke luar kota?" ,tetapi mereka menjawab bahwa tidak ada dari keluargaku yang akan pergi, apalagi ke luar kota. Awalnya aku tenang, tapi tetap saja firasat ini mengganggu pikiranku. Lalu firasat ini ditujukan kepada siapa? Aku tidak tahu. Satu hal yang aku pikirkan pertama kali adalah keluargaku.

Dan sekarang, waktu menunjukkan pukul 18.30 wib. Entah apa yang akan terjadi tiga puluh menit kemudian, aku pasrahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa.

19.00 wib.

Handphone ibuku berdering, ibuku yang baru saja selesai shalat isya langsung berlari untuk mengangkat telpon tersebut yang entah dari siapa. Ibuku yan tadinya tenang, kini berubah menjadi tegang. Ekspresi wajahnya kini berubah menjadi sedih dan panik. Beberapa menit kemudia telpon dimatikan, dan ibuku memanggil Ayah. Ternyata, ibu mendapatkan kabar bahwa Kakak dari ibuku (Bude) mengalamai kecelakaan motor di daerah Purwakarta. Ayah dan Ibu pun langsung bergegas pergi menuju UGD dimana Bude dan Pakde di bawa.

Aku yang mendengar berita itu, merasa sangat terpukul. Entah kenapa kala itu aku merasa benar-benar bersalah terhadap kejadian itu. Aku sudah berusaha bertanya dan ingin mengingatkan, tetapi ternyata kedua orang tuaku lupa kalau Bude akan pergi ke Subang. Kalau saja aku tahu sejak awal Bude akan pergi jauh, pasti aku sudah menahannya dan melarangnya untuk pergi agar semua ini tidak terjadi.

Lagi-lagi aku menyesal, seharusnya aku tidak memendam firasat ini yang justru berujung seperti ini. Tetapi, ini sudah menjadi ketentuan dan takdirNya. Jika Tuhan berkehendak lain, pastilah ada cara lain untukku bisa mencegah kejadian itu. Dan syukurlah, Bude dan juga Pakde masih Allah selamatkan, mereka mengalami patah tulang di bagian tangan dan dada yang masih bisa disembuhkan selama beberapa bulan.

Melalui kejadian yang menimpa Bude-ku itu, aku seperti mendapatkan sebuah pelajaran baru. Bahwa apapun yang aku rasakan, sebaiknya tidak aku pendam begitu saja dan aku harus mau mencari tau. Setidaknya, aku bisa menceritakan firasatku itu kepada keluargaku untuk menghindari itu semua dan agar mereka semua bisa lebih berhati-hati.

Indigo Crystal 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang