Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

43 - Sebelum Sidang (2)

299 36 7
                                        


H-7 sidang aku sempat sakit karna ada seseorang yang mengirimi sesuatu. Membuatku tidak bisa fokus mempelajari skripsiku. Sakit yang panas seperti ditusuk di bagian pipi kanan, lalu mata yang merah membuatku tidak bisa mempelajari skripsiku.

Ini berbeda dari yang sebelumnya pernah datang. Jadi waktu itu sakitnya memang cukup aneh, karena rasanya benar-benar panas dan seperti ditusuki jarum kecil. Padahal tidak ada lukanya.

Tapi alhamdulillah hal itu tidak berlangsung lama, karna waktu itu aku mengobati sakitnya dengan daun bidara yang kami tanam sendiri di halaman rumah. Sekaligus meminta didoakan pada keluarga. Daun bidaranya aku haluskan dulu, lalu diperas untuk dicampur dengan air satu gayung dan dibilaskan ke wajah.

Sebenarnya, bagi orang awam sakit seperti ini adalah hal biasa (mungkin). Disini karna posisinya aku bisa melihat dan juga peka secara batin, jadinya aku lebih bisa membedakan mana yang sakit karna medis dan bukan.

Perihal siapa yang berbuatnya, sebenarnya keluarga besarku tahu karena walaupun aku tidak bisa peka kepada diri sendiri, setidaknya aku memiliki keluarga yang sangat sayang kepadaku dan mereka sangat mengenaliku. Tapi tetap itu menjadi hal yang hanya Tuhan dan si pengirimnya yang tahu. Tugas kita ya hanya bersyukur dengan keadaan apapun yang sudah Tuhan kehendaki.

...

H-5 SIDANG

Setelah sakitnya berkurang, 2 hari berikutnya tiba-tiba ada makhluk yang berusaha ikut tidur denganku di kasur. Rasanya seperti ada guling, padahal dari kecil aku tidak pernah tidur memakai guling.

"Kak kak kak, kenapa ya beberapa hari ini ada pocong ibu-ibu yang tidur di sebelah aku. Tapi dia bilang, maaf pada dasarnya ini adalah kesalahan saya," ceritaku pada kakak.

"Iiiihhh, iya. Waktu itu juga aku tidur rasanya kamarku kayak angker banget, terus dingin, merinding. Tapi kan aku gabisa liat wujudnya apa, cuma peka aja. Tapi perasaanku kok kayaknya pocong," balas kakakku.

"Asli kak, tali pocongnya itu longgar. Wajahnya ibu-ibu, tapi katanya ibu kenal sama dia," ucapku.

"Ih kok ngeri sih obrolan kalian," ucap tante.

"Serius, ada pocong ngikutin aku terus udah 3 hari. sampe ikut tidur di kasurku," jelasku.

"Coba kamu fokus, tanya darimana, jangan ganggu gitu," ucap kakak.

"Aku udah fokus, tapi batinku ngerasa bakal ada yang meninggal tapi geger beritanya. Kabar meninggalnya dari arah timur," ucapku.

"Terus gimana?" tanya tante.

"Terus dia cuma pengen bilang maaf karna sebenernya itu salah dia, nah dia itu ingin bilang maafnya ke seorang laki-laki, tapi laki-laki yang ditunjukkinnya kok mirip Ayah," jelasku.

....

"Eh bu, ibu mau ke Jogja kan besok? Titip pesen ya bu, ibu cukup ke sawah dan kelurahan aja untuk urus surat-surat. Jangan sampai mampir ke rumah. Jangan pokoknya!!" ucapku to the point.

"Tapi Ayah pengen pulang dulu ke rumah nengok ibunya (ibu sambung)," ucap ibu.

"Aduh gimana ya bu, jangan pulang ke rumah pokoknya. Dateng dari stasiun ke sawah aja urus surat-surat, terus abis itu balik lagi ke stasiun buat pulang lagi ke bandung. Soalnya aku di nasihatinnya gitu sama mbah buyut (almarhum)," pesanku.

"Yaudah Nay kalo gitu, ibu langsung ke sawah aja terus nanti langsung pulang lagi ya," ucap ibu.

Malam itu ayah dan ibu sudah berangkat untuk pergi ke Jogja. Di rumahku hanya ada aku, adikku, kakakku, dan keponakanku yang berusia 2 tahun.

Indigo Crystal 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang