Januari 2017
Masa liburanku dari pantai Garut kemarin bersama dengan keluarga telah berakhir. Aku mulai beraktivitas seperti biasa, meskipun sebenarnya aku sedang cuti kuliah selama semester 2 ini.
Beberapa hari setelah pergi berlibur, teman-teman SMA-ku mengajak untuk berkumpul di sekolah karna ada acara yang diadakan oleh sekolahku untuk alumni. Tapi, waktu itu aku tidak bisa ikut karna aku sedang ada urusan di kampus.
***
"Ca, gaakan nyusul ke sekolah? Kita tungguin nih. Ayo kita jajan seblak" ,ajak teman-temanku di grup.
"Ngga bisa, aku lagi ada perlu hari ini" ,jawabku singkat.
"Yaahh.. Kecewa, padahal kita kangen udah lama ga ketemu." jawab mereka.
"Hehe.. Kapan-kapan kita ketemu, lagian rumah masih sama-sama di Cimahi kan." ,jawabku menghibur.
***
Sebenarnya, beberapa hari terakhir ini aku sering didatangi oleh seorang kakek-kakek. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Kedatangannya selalu membuat suasana menjadi lebih sejuk dan nyaman.
Sosok itu belum pernah berbicara ketika menatap ke arahku, ia hanya diam dan tersenyum kepadaku. Sosok itu begitu gagah, tampan, hangat, dan energinya begitu positif. Pakaiannya serba putih, dengan memakai sorban. Persis seperti seorang kyai.
"Hmm.. Siapa kakek itu? Kok akhir-akhir ini sering muncul tiba-tiba?" ,tanyaku dalam hati.
"Bu, bu.. Ibu tau wajah mbah buyut ngga?" ,tanyaku.
"Lupa, soalnya mbah meninggal pas ibu masih kecil. Tapi pokoknya yang perempuan cantiiikk banget, putih, terus hidungnya mancung. Kalo yang laki-laki juga sama gantengg, bersih kulitnya. Mirip kayak mbah kakungmu." ,jelas ibuku
"Tinggi gak bu?" ,tanyaku lagi.
"Iya kalo mbah buyutmu agak tinggi. Terus ganteng", katanya lagi.
"Oohh.. Kayaknya yang aku liat akhir-akhir ini mbah buyut" ,kataku pelan.
"Hah gimana? Kamu ketemu mbah buyut?" ,tanya ibuku yang kaget.
"Gak tauu.. Aku gak hafal bu. Mbahnya juga cuma diem aja, tapi bajunya serba putih, terus pake sorban" ,kataku.
"Iya mungkin itu mbah buyut." ,jawabnya.
****
Belum terjawab sebuah pertanyaan tentang siapa mbah yang sering muncul akhir-akhir ini, tiba-tiba saja Kakeknya Kenzi muncul lagi setelah sekian lama tidak pernah kulihat.
Diujung pintu rumahku, terlihat kakeknya hanya menatap dan diam. Tatapan itu mengingatkan aku kembali pada sebuah kejadian yang lalu.
"Loh, kok kakeknya murung lagi" ,aku pun heran.
Beberapa saat kemudian, sosok kakek itu menghilang begitu saja tanpa meninggalkan sepatah katapun. Membuatku semakin keheranan.
"Kak, kakeknya si Kenzi dateng lagi barusan" ,kataku bercerita kepada kakak.
"Ngomong apa emang?" ,tanyanya.
"Ga ngomong apa-apa. Diem terus pergi." ,jawabku.
"Ada pesen kali buat Kenzi." ,kata kakakku.
"Gatau juga.. Apa jangan-jangan kakeknya gatau kalo kita udah lulus SMA ya?" ,aku sedikit ngawur.
"Mana adaaa.. Ya pasti udah tau lah. Ya mungkin karna udah kenal sama kamu, jadi kakeknya nengok kamu setelah lulus SMA." ,jelasnya.
"Tapi wajahnya murung lagi" ,jelasku.
"Ya kamu tanyain aja kabarnya Kenzi, siapa tau emang mau ngasih pesen buat cucunya." ,solusinya.
"Udah gak punya kontaknya. Hehe." ,jelasku.
"Hmm.. Tanya temennya lah." ,jawabnya.
"Eeee...nanti aja deh." ,kataku ragu.
****
Beberapa hari kemudian, antara mbah buyut dan kakeknya Kenzi tidak datang lagi menemuiku. Membuatku lupa akan pertanyaan-pertanyaan dan keherananku yang waktu itu aku pertanyakan.
Saat itu, di saat aku cuti semester 2 karna ingin menenangkan diri dan mencari tau tentang diriku sendiri. Saat itu pula aku mendapatkan sebuah pelajaran yang pada akhirnya aku memutuskan untuk sendiri dulu hingga saat ini.
*****
Setelah hari itu, aku mulai melihat diriku sendiri.
Ternyata, hidupku penuh dengan warna.
Sudah banyak hal yang aku lewati.
Apakah ada yang salah dariku?
Aku sudah bisa menerimanya.
Aku pasti bisa melanjutkannya.
Namun, tidak jarang juga pikiranku berkata lain saat berada di titik jenuh :
"Sepertinya kemampuanku ini adalah kekurangan. Dimana tidak semua orang bisa menerima aku yang seperti ini. Tidak semua orang bisa memahami ini, bahkan teman dekatku sekalipun. Selama ini, aku hanya menyimpan kemampuan ini. Mengubur semua pesan-pesan yang seharusnya bisa aku sampaikan. Dan akhirnya, aku berada di titik jenuh yang merasa bahwa ini adalah kekuranganku. Lalu, siapa yang akan bersedia menerima ini selain aku dan keluarga?"
---
- Nayshi
Sebuah perjalanan yang penuh cerita dan luka telah mengajarkanku bagaimana arti hidup ini, telah membuka mataku untuk lebih luas melihat hal-hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dan harus kuambil hikmahnya.
Maka, memilih untuk sendiri akan lebih baik, memahami diri sendiri dan memahami apa kekurangan diri sendiri akan jauh lebih baik. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Tanpa perlu khawatir karena aku memiliki kemampuan ini. Karna aku, tetaplah manusia biasa.
Maka, jangan lagi samakan aku dengan seorang dukun. Karna aku, tidak pernah berniat ingin melukai siapapun dengan mata batinku ini.
Cobalah temukan arti kebahagiaan di titik paling sederhana. Jika kamu bisa menemukannya, maka itulah level tertinggi dari kebahagiaan.
Aku, berterimakasih kepada semua yang telah menjadi bagian dari kisah perjalananku. Izinkan aku mengabadikanmu dalam sebuah karya sederhanaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Crystal 2
ParanormalDunia ini tidak seperti apa yang kita lihat. Terdapat banyak misteri dalam kehidupan ini Apa yang kau lihat, Apa yang kau saksikan, Apa yang kau rasakan, Apa yang kau ketahui, Masih tersimpan banyak misteri di dalamnya. Terlebih lagi tentang dua ala...
