Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

24 - Pesan dari Jogja

843 92 5
                                        


Waktu itu setelah selesai acara keluarga, aku memiliki banyak waktu untuk menghabiskan libur akhir pekan di Yogyakarta. Aku bersama adikku memang belum pernah ke salah satu Museum yang ada di pusat kota Jogja ini. Padahal, setiap pulang kami pasti melewati museum ini.

Waktu masih menunjukkan pukul 08.00 wib, tapi aku dan adikku sudah siap di depan museum menunggu museum di buka. Setelah gerbang dibukakan, kami pun masuk dan menyusuri museum mulai dari ruang diorama 1. Suasana masih sangat sepi sekali, tidak ada orang lain yang mengunjungi museum sepagi ini.

Kulihat bangunan bersejarah ini. Banyak residual energi yang aku tangkap dari tempat ini. Kejadian masa lalu di tempat ini terekam di mata batinku. Tempat ini masih ramai oleh aktivitas orang-orang netherlands. Tidak jarang, mereka memasang wajah sinis kepada orang-orang pribumi yang mengunjungi museum ini.

Di salah satu ruangan yang masih lekat dengan nuansa Belanda, aku melihat sesosok makhluk dengan pakaian tentara belanda berdiri melihat kami. Ia tinggi, besar, berkumis, gagah, tapi terlihat galak.

Energi yang terpancar darinya adalah energi kemarahan dan ketidakterimaan atas kejadian di masa lalu. Saat aku akan berjalan melewatinya, tiba-tiba saja dia menunjukku.

👮 : Siapa kamu? Mau apa datang kesini?

👧 : Saya mau tau sejarah yang ada disini.

👮 : Tidak. Saya tidak suka. Saya tidak suka pribumi ada disini. Ini tempat saya, ini wilayah saya.

👧 : Saya juga tidak suka Netherlands karena telah menjajah tanah ini.

👮 : Saya tidak suka para pribumi dihormati oleh kalian. Saya tidak suka museum ini dijadikan tempat untuk mengenang para pribumi yang sudah merampas tempat ini.

👧 : Tapi ini bukan tempatmu. Tempatmu bukan disini.

👮 : SAYA TIDAK SUKA. SAYA TIDAK SUKA PRIBUMI. INI MILIK SAYA.

👧 : Saya juga tidak suka anda. Permisi.

👮 : 😡

Dengan santai dan cuek aku meninggalkan sosok yang terlihat semakin memuncak kemarahannya karena aku mengabaikannya.

Kalo diliat-liat, sosok hantu belanda yang ada di wilayah museum ini ganteng-ganteng. Biasanya, di Bandung aku hanya melihat kunti, pocong, kunti, pocong, kunti, pocong. Ternyata, di kota Yogyakarta banyak sekali sosok-sosok unik yang kutemui.

Tak lama kemudian, di ruangan diorama yang lain aku melihat sosok netherlands juga. Tapi ia lebih ramah dan menyedihkan dibandingkan yang tadi kujumpai.

👱 : Dia tidak suka saya. (menunjuk sosok yang tadi kujumpai)

👧 : Kenapa dia tidak suka juga?

👱 : Karena saya ketahuan membela pribumi. Tetapi semua pribumi tidak menyukai netherlands. Semua marah. Tidak ada yg mau berbicara padaku.

👧 : Saya terimakasih. Karena anda sudah ikut membela pribumi.

👱 : Ya. Terimakasih karena kamu mau berbicara pada saya.

👧 : Disini sangat ramai. Netherlands banyak sekali melakukan kegiatan disini.

👱 : Ini adalah pusat pemerintahan dan pertahanan Belanda. Saya salah satu petugas yang berkhianat pada Belanda demi membela pribumi. Tapi saya tidak ada dalam sejarah, karena semua membenci saya. Termasuk pribumi.

👧 : Kenapa kamu masih ada disini?

👱 : Saya dibuang dan dihabisi bersama dengan pribumi.

👧 : ...........

***

Banyak pelajaran yang bisa diambil ketika aku pergi ke salah satu museum ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Banyak pelajaran yang bisa diambil ketika aku pergi ke salah satu museum ini. Membuatku semakin mengerti dan menghargai perjuangan-perjuangan para pahlawan di masa lalu.

Nyatanya, disana juga aku bertemu dengan beberapa sosok pejuang dari masyarakat biasa yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Mereka hanya berpesan, sebagai generasi penerus bangsa, sebagai anak muda kita haruslah menghormati dan menghargai perjuangan para pahlawan kita dulu. Janganlah berbuat kerusakan terhadap bangsa sendiri, tapi bangunlah negeri ini menjadi negeri yang satu dan utuh.

----

Sepulangnya dari Museum, aku dan adikku jalan-jalan saja keliling kota. Kulihat betapa istimewanya kota ini. Ternyata di setiap sudut kotanya, tempat ini begitu sakral. Setiap sudutnya sudah tertata dengan memiliki filosofi kehidupan, bukan sekedar tata letak yang tanpa makna.

Setiap pohon yang ditanam di sisi kota itu memiliki arti. Di setiap sudut kota ini, tak jarang aku masih melihat prajurit-prajurit bregada tak kasat mata yang menjaga dan merawat keutuhan Yogyakarta. Banyak sekali makna kehidupan yang aku dapat dari setiap sudut kota ini, dari keramahan setiap orangnya, dari damainya suasana kota ini, dari kearifan lokal dan budayanya.

"Kata orang, Jogja terbuat dari rindu."

Berbicara soal kearifan lokal dan budaya, aku ingat ada sebuah pesan yang pernah kubaca dari seorang putri kraton, yaitu :

Kita sering lupa atau kurang paham bahwa segala ciptaan Gusti Allah di dunia ini memiliki ruh, bila kita menjaga mereka maka mereka akan menjaga kita.

Kearifan lokal dan budaya bukanlah bentuk dari kita mengkhianati agama, tetapi ada makna lebih dalam yang perlu dimengerti tanpa dicela. Karena kearifan lokal dan budaya itulah cara kita menjaga dan melestarikan alam Paringanipun Gusti Allah.

- GKR Bendara

----

Nayshi,

Jogja adalah bagian dari jati diriku.
Jika kamu mampu memahami kota ini lebih dari sekedar kesenangannya semata, dan memahami bagaimana cara kota ini mencintai manusianya. Maka, begitulah karakter yang terbangun di dalam diriku. Karna dari kota inilah aku berasal.

🎬 🔊

Sederhana :)

Indigo Crystal 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang