15 - Kuliah Semester 3

1.2K 130 9
                                    

Setelah cuti selama 1 semester, akhirnya aku
kembali berkuliah di tempat yang sama, situasi yang sama, dan teman-teman yang sama. Hari pertama masuk kuliah saat itu, menjadi hari yang paling asing kembali untukku.

Teman-teman tidak ada yang lupa denganku, bahkan mereka semua masih baik kepadaku. Tapi, aku merasa seperti mahasiswa baru yang harus beradaptasi lagi dengan sebuah lingkungan. Lingkungan yang masih terlihat jelas sama seperti dulu, tak ada yang berubah. Bahkan kurasa, mata batinku semakin menajam setelah aku bertambah umur, 19 tahun.

"Nayshi.. Kemana ajaaa?" ,sapaan setiap teman yang berpapasan denganku.

Rasanya, aku tak punya banyak alasan untuk menjawab semua pertanyaan itu selain tersenyum untuk menyembunyikan kenyataan.

Selain itu, yang teman-teman ketahui tentangku adalah aku mengambil cuti semester hanya karna masih ingin terus berjuang menggapai sekolah ikatan dinas impianku. Walaupun begitu, lagi-lagi aku gagal di tahap kesehatan. Mungkin, karna kondisi fisikku yang memang tidak fit ketika menghadapi ujian itu.

Mungkin ada sedikit cerita di sela-sela perjuanganku ketika cuti kuliah semester 2 itu.

Saat itu, aku mengikuti tes salah satu sekolah ikatan dinas yang ternama, dimana banyak dari lulusan SMA di seluruh Indonesia mengharapkan kampus tersebut, termasuk aku. Aku harus bersaing dengan ratusan ribu siswa dari seluruh Indonesia.

Waktu itu, aku ditemani Ayah ketika tes pemberkasan. Alhamdulillah, di tahap pemberkasan ini aku lulus karena sudah memenuhi semua persyaratannya dan mendapatkan nomor peserta.

Rasanya, perjuanganku ini hampir sama seperti Ayah yang dulu telah berjuang untuk menjadi seorang abdi negara. Hanya bedanya, aku tidak setangguh Ayah. Jadi, aku memutuskan untuk memilih jurusan lain yang tidak begitu menguras tenaga di lapangan seperti Ayah.

Satu bulan setelah tes pemberkasan, akupun melaksanakan tes akademik. Bersaing dengan ratusan ribu siswa lainnya dengan mengerjakan 120 soal TPA dalam waktu 100 menit, dan 60 soal bahasa inggris dalam waktu 50 menit.

Lucunya, ada beberapa fakta yang mungkin masih menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Indonesia ketika mereka harus bersaing seperti ini.

"Pegangan"

Begitulah kata yang tepatnya, yang mungkin kalian juga sudah mengerti apa maksudnya.

Sebelum masuk ke dalam ruang kelas untuk melaksanakan ujian, aku dan beberapa ribuan orang dari Jawa Barat lainnya diminta untuk menunggu dulu di luar gedung. Tidak ada larangan untuk para orang tua turut mendampingi anaknya di lokasi tersebut.

Lagi lagi, aku ditemani oleh Ayah. Tidak perlu heran kenapa Ayah, karna jika untuk pergi-pergi keluar aku memang lebih sering bersama Ayah. Kalau untuk kegiatan-kegiatan yang masih di lingkungan rumah atau di dalam rumah, aku pasti bersama ibu.

Kulihat semua siswa membaca bukunya, hanya aku yang saat itu tidak membawa buku untuk dibaca.

Entahlah, bagiku belajar disaat beberapa menit menjelang ujian hanya akan membuatku semakin panik dalam mempelajarinya. Sehingga apa yang telah aku persiapkan dari jauh-jauh hari malah terlupakan. Jadi, lebih baik aku menenangkan diri dan banyak berdo'a sebelum ujian dimulai.

"Ayah ayah..." ,bisikku kepada Ayah.

"Kenapa?" ,jawabnya singkat.

"Lihat itu orang-orang, pada pake pegangan yah" ,kataku berbisik.

"Haaaa... biarin ajaa, itu kan hak mereka. Yang penting kamu berusaha dan berdoa sama Allah" ,jawab Ayah tegas.

"Iya.. cuma heran aja. Ngapain harus nanya-nanya ke orang pinter kalau mau ujian supaya bisa masuk" ,kataku heran.

Indigo Crystal 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang