19 - Aku dan Sebuah Pesan

969 109 6
                                        

2017.

Beberapa bulan telah berlalu, lembaran baru tengah kujalani. Aku lebih tenang dan lebih bebas sekarang. Aku bersyukur karna aku telah melewati banyak hal yang membuat hari-hariku kini jauh lebih berarti.

---

"Bu, aku dapet gambaran semalem" ,kataku.

"Gambaran apa?" ,tanyanya.

"Ada kecelakaan beberapa bus" ,kataku cemas.

"Dimana?" ,ibuku ikut cemas.

"Masalah dimana dan kapannya, aku gaakan pernah tau Bu, karna itu kuasa-Nya. Tapi kronologis dan suaranya jelas banget terdengar tadi malam. Eh dini hari" ,jelasku.

"Kalau dapet gambaran kayak gitu harus di gimanain?" ,ibuku bingung.

"Belum tau aku juga. Aku cuma bisa do'ain semoga hal itu gak terjadi." ,kataku.

"Iyaa Nay, ibu juga bantu do'a mudah-mudahan apa yang kamu liat dari mata batin itu gak terjadi dan hanya peringatan aja. Tapi kalau terjadi, mudah-mudahan orang-orang yang kamu liat menjadi korban itu diterima disisi Allah karena mau bagaimanapun mereka sudah pilihan Allah, dan sudah ditakdirkan seperti itu." ,jawabnya.

"Iyaa bu, aamiin." ,jawabku

---

Keesokan harinya,

"Innalillahi.. Nay sini nonton tv." ,kata ibuku.

"Kenapa Bu?." ,aku pun menghampiri.

"Itu yang kata kamu. Ibu merinding, gak tega liatnya." ,ibuku menunjukkan sebuah berita.

---

Kulihat berita di tv yang sedang berlangsung. Dimana-mana berita sedang menayangkan sebuah kejadian kecelakaan bus yang cukup parah dan memakan banyak korban jiwa.

Aku mulai lemas. Tidak tahu harus apa. Gambaran yang telah aku terima beberapa hari yang lalu benar-benar terjadi dengan kronologis yang sama persis.

Aku tidak tahu siapa di dalamnya. Tapi aku melihat bagaimana histerisnya korban pada saat kejadian itu.

Lalu, aku menangis melihat kejadian itu. Saat itu, aku belum mengerti harus bagaimana menghadapi gambaran yang benar-benar terjadi. Karena ketidaksiapan itu, aku malah stress dan menjadikan gambaran tersebut sebagai sebuah beban yang tidak bisa aku cegah dan aku atasi.

"Bu, kenapa yang aku liat dari mata batin waktu itu benar-benar terjadi?" ,aku bertanya dengan lemas.

"Sstt.. Itu kan udah Kuasa Allah. Kalaupun bisa dicegah, pasti kamu menemukan seseorang yang tepat untuk menyampaikan pesan itu dan berkata hati-hati." ,ibuku menenangkan.

"Tapi aku jadi kayak orang payah. Aku ngerasa kayak aku tau sesuatu, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Dan cuma bisa pasrah aja liatnya." ,kataku menyesal.

"Kan kemarin kamu sendiri yang bilang sama ibu, cukup mendo'akan mereka agar semua baik-baik saja, dan siapapun yang menjadi korbannya, itu sudah Allah takdirkan, Nay." ,ibuku menenangkan lagi.

"Iya bu.. Tapi aku kaget juga belum siap dengan ini semua." ,kataku pelan.

"Iya ibu tau, jadi anak indigo itu gak mudah. Belajar ikhlas untuk menerimanya, apapun gambaran yang Allah kasih, kembalikan lagi kepada-Nya, kamu juga harus percaya bahwa Allah percaya kamu bisa mengatasinya. Kalau tidak bisa menyampaikan secara langsung, kamu punya do'a yang bisa di dengar langsung oleh-Nya"

"Iya Bu" ,kataku sedih.

"Udah jangan sedih. Kalau kamu sedih, ibu juga sedih" ,kata-katanya terdengar tulus.

Indigo Crystal 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang