Semenjak penolakan Shania pada Beby, Beby lebih banyak menjauh dari diri Shania dan menyibukkan dirinya dengan segala aktifitas kampus.
"Beb, tugas kemarin udah selesai belum?" Beby tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Saktia. "Udah. Lo tenang aja. Pokonya semua beres dah!"
Saktia bernapas lega mendengar jawaban Beby karena dia memang satu kelompok dengan Beby. Saktia bersyukur berada satu kelompok dengan Beby karena semua tugas selalu diselesaikan dengan baik olehnya.
***
Sementara itu...
Shania tampak termenung di dalam kelasnya. Penolakannya terhadap Beby membuatnya merasa tidak enak. Ada rasa sakit yang dirasakannya apalagi perubahan sikap Beby kepadanya.
"Kenapa akhirnya malah kamu yang menjauh? Kalau tahu penolakanku menyebabkan aku dan kamu merasakan sakit begini, mending aku terima aja." Batin Shania.
"Shan, lo kenapa? Gak enak badan lo?" Tanya Vania.
Shania menggeleng dan tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Vania. Vania menghela napas beratnya saat melihat perubahan sikap Shania yang sangat drastis.
"Ya udah. Lo kalau ada masalah, cerita aja sama gue. Syukur-syukur gue bisa bantu lo deh." Shania mengangguk. "Makasih ya, Van."
Setelah menunggu beberapa menit, sang dosen pun masuk ke dalam kelasnya untuk mengumumkan sesuatu.
"Baik! Dengarkan semuanya! Bapak ada pengumuman." Seluruh mahasiswa terdiam dan menunggu lanjutan pengumuman dari sang dosen. "Kampus kita akan melakukan acara kemping. Jadi, kalian semua diwajibkan untuk ikut acara ini."
Seluruh mahasiswa bersorak riang. Akhirnya pihak kampus memberi mereka senang-senang sebelum benar-benar menghadapi ujian akhir.
"Wih Shan! Kemping nih! Asyik banget kayaknya." Shania tersenyum mendengar ujaran Vania.
"Baiklah! Karena acara kempingnya dilaksanankan besok, maka untuk hari ini, kelas akan Bapak bubarkan lebih cepat." Sorakan mahasiswa terlihat lebih menggebu saat sang dosen melanjutkan pengumumannya.
***
Beby tampak sedang berada di kantin kampus sendirian. Sedari tadi minuman yang dipesannya hanya diaduk saja. Sesekali terdengar helaan napas kasar dari mulutnya saat mendengar penolakan Shania yang membuat segala perjuangannya gagal.
"Memang terlalu cepat untuk menyatakan ini semua. Tapi, aku beneran cinta sama kamu." Beby tersenyum miris dalam lamunannya.
"Hoi!" Beby terkaget saat Saktia menepuk pundaknya. "Ngagetin gue aja lo!"
Saktia terkekeh pelan, lalu duduk di samping Beby. "Kenapa sih? Muka kusut banget udah kayak kertas yang dibejek aja."
Beby kembali tersenyum tipis menganggapi pertanyaan dari Saktia. Kembali, dia mengaduk minuman di depannya.
"Sak, lo pernah jatuh cinta gak?" Saktia tampak berpikir sejenak lalu mengangguk mantap. "Pernah. Kenapa?"
"Lo pernah merasakan sakitnya ditolak gak sih?" Beby kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Saktia mengerutkan keningnya.
"Kalau ditolak mungkin belum pernah. Ya kan lo tahu kelakuan gue gimana." Beby terkekeh pelan mendengar jawaban Saktia.
"Eh! Oiya, gimana kemarin? Sukses gak?" Beby menggelengkan kepalanya. "Gagal, Sak."
Saktia menghela napas leganya diam-diam. Perlahan, tangannya terangkat dan mengusap pundak Beby seraya menenangkannya.
"Lo yang sabar ya, Beb. Masih banyak cewek di luar sana kok." Hibur Saktia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between You and Her(Completed)
Fiksi PenggemarPerjuangan Shania untuk kembali ke pelukan Beby, dimulai
