Sore itu dikala semua orang telah pulang ke rumah mereka masing-masing, Saktia tampak sedang duduk bersantai di sofa ruang tamu kosnya. Dia baru saja selesai mencuci semua piring bekas.
Baru saja dia beristirahat, tiba-tiba terdengar suara bantingan di meja ruang tamu yang mengagetkannya. Dia melihat ke arah orang yang telah membuatnya kaget tersebut, "Apaan sih, Beb? Datang-datang main geprak meja aja."
"Sak, maksud lo apaan ngerebut dia dari gue?!" Tanya Beby penuh emosi.
"Apaan sih, Beb! Kok lo dateng-dateng ngegas?"
"Dasar emang lo, pebinor!"
Saktia yang tidak terima Beby membentaknya pun berdiri dari sofa dan menatap Beby dengan tatapan bencinya.
"Maksud lo apa bilang kayak gitu?!"
"Karena lo udah ngerebut Shania dari gue!"
"Helloowww!! Ya lo ngaca aja keles! Lo itu cuek dan selalu gak punya waktu buat Shania. Ya, wajar dong kalau dia ngebuka hatinya untuk orang lain!"
"Tapi nggak gini juga, Sak! Gue udah nganggap lo tuh sahabat gue! Gue percaya sama lo! Tapi sekarang, lo malah ngekhianatin persahabatan kita! Lo tau kan betapa susahnya gue dapetin hatinya Shania?!"
Saktia mendelik dan memutar malas bola matanya.
"Ya terus? Urusan gue gitu? Hah! Itu urusan lo! Udah ah gue mau cabut ke kamar gue! Bye!"
Beby berdiri terdiam saat Saktia berjalan melewatinya.
***
Beby POV
Bukan maksudku membentak Saktia seperti itu. Tapi, emosiku memang sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku meluapkan segalanya pada Saktia. Aku tidak peduli jika dia sakit hati. Aku juga tidak peduli jika dia tidak ingin lagi berteman denganku.
Kini aku sedang berada di depan kamarnya. Kudengar suara isakan dari dalam sana. Aku yakin, Saktia sedang menangis. Dan ini pertama kalinya aku mendengar suara tangisannya yang begitu pilu. Dan karena aku tahu kebiasaan dia yang tidak mengunci pintu kamar, aku pun menarik knop pitu kamarnya dan masuk ke dalam.
"Lo jahat Beb! Jahat banget!" Bentak Saktia dengan isakannya.
"Gue kayak gini juga gara-gara lo, Sak!" Aku menjeda ucapanku, "Lo tau Shania itu pacar gue. Tapi, lo dengan seenak jidat ngedeketin dia. Sahabat macam apa lo?!"
Saktia mengangkat wajahnya dan menatapku, "Trus mau lo apa sekarang?!"
"Kalau lo emang ingin bersaing, kita bersaing secara sehat." Ucapku.
Saktia mendengus, "Gak usah bersaing juga semua orang tau, Shania lebih milih lo dari pada gue."
"Kalau lo udah tau, kenapa lo gak ngejauh?!"
"Itu salah lo sendiri yang nitipin dia buat gue!" Kini, Saktia meninggikan nada bicaranya, "Lo berobat ke luar negeri dan lo nitipin dia ke gue tanpa tau perasaan gue ke dia itu gimana!"
"Gue titipin dia ke lo bukan berarti lo bisa lupa kalau dia siapa!"
Saktia berdiri dan menghampiriku, "Dan sekarang lo baru tau kalau gue itu cinta sama Shania?!" Jeda Saktia. "Lo telat, Beb!"
Aku tersenyum sinis atas ucapan Saktia yang menurutku tidak layak. Aku menatap tajam padanya, "Lo bilang gue telat mengetahui perasaan lo pada Shania?!" Aku tertawa keras, "Lo salah besar, Sak! Justru gue tau gimana lo!"
Saktia terdiam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kulihat kedua tangannya mengepal. Kepalanya tertunduk.
"Gak bisa bales kan lo?!" Cibirku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between You and Her(Completed)
Fiksi PenggemarPerjuangan Shania untuk kembali ke pelukan Beby, dimulai
