Sesak! Itulah yang kurasakan sekarang. Melihat orang yang kucintai masih setia memejamkan matanya dan terbaring lemah begitu saja di ranjang rumah sakit.
"Cepet sembuh, Beb. Aku kangen sama kamu." Gumamku pelan.
"Shania..." Aku menoleh pada pemilik suara yang memanggilku dengan lembut, "Ada apa, Sak?"
Saktia tersenyum dan menghampiriku. Tampak di tangannya ada dua bungkus plastik berisi makanan.
"Nih buat lo." Aku tersenyum seraya menerima makanan tersebut. "Makasih ya, Sak."
"Dimakan gih! Sambil nungguin Beby sadar."
Aku mengangguk dan mulai menyantap makanan tersebut.
Tak lama kurasakan ada pergerakan dari tubuh Beby. Aku menghentikan sejenak makanku dan menatap ke arah ranjang.
"Sak, sepertinya tadi Beby bergerak." Ucapku.
"Benarkah?!" Saktia menatapku, lalu menyimpan makanannya di meja, "Panggilin dokter, Shan."
Aku mengangguk dan segera keluar dari kamar Beby untuk memanggil dokter.
***
Author POV
"Kondisi pasien stabil. Dia sudah bisa dipindahkan ke kamar inap biasa." Shania dan Saktia tersenyum mendengar penjelasan sang dokter.
"Akhirnya Beby melewati masa kritisnya." Ucap Shania berbinar.
"Iya. Akhirnya." Saktia juga ikut menimpali.
Tak lama setelah dokter keluar, Beby pun membuka matanya dan menelusuri sekitarnya.
"Aku dimana?" Shania dan Saktia langsung melihat ke arah Beby yang baru saja sadar. "Kalian siapa?"
Senyum Shania dan Saktia langsung luntur seketika saat pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Beby.
"Beb?" Panggil Shania. "Kamu gak kenal kita?"
Beby menggeleng, "Kamu siapa? Itu yang disebelah kamu siapa?"
Air mata Shania menetes seketika. Baru saja senang Beby sadar dari masa kritisnya, kini dia harus menerima sakit yang amat sangat saat Beby tidak mengenalnya.
"Kamu--- beneran tidak tahu aku siapa?" Tanya Shania lirih.
"Gak! Memangnya kamu siapa?" Beby balik bertanya.
"Aku Shania, pacar kamu." Shania menjeda ucapannya dan mengusap air matanya, "Masa kamu gak kenal sama aku?"
"Pacar? Masa sih aku pacaran sama cewek?" Ucap Beby.
JDEEERRRR!!!!
Ucapan Beby bagaikan petir yang menyambar hati Shania. Rasanya sakit sekali saat Beby mengatakan hal tersebut secara langsung.
"Shan, lo yang tenang ya?" Hibur Saktia merangkul pundak Shania. "Beby mungkin masih shock."
Shania menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir di pipinya semakin deras.
"Biar gue panggilin dokter ya." Shania mengangguk tanpa mampu berkata-kata.
Hati Shania benar-benar sakit sekali mendengar ucapan Beby.
***
"Pasien mengalami amnesia akibat benturan di kepalanya." Ucap sang dokter setelah memeriksa kondisi Beby.
Saktia dan Shania hanya mampu menghela napas mereka mendengar penjelasan sang dokter. Akibat pukulan keras dari Della di belakang kepala Beby kemarin, Beby mengalami amnesia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between You and Her(Completed)
Fan-FictionPerjuangan Shania untuk kembali ke pelukan Beby, dimulai
