#11

989 79 5
                                        

Entah apa yang mendorong Beby sehingga dia berada di depan toko Shania sekarang. Dia termenung melihat Shania yang sedang sibuk melayani pelanggannya. Senyuman hambar diperlihatkan ketika Shania tersenyum manis padanya.

Mengetahui ada yang tidak beres, Shania pun berpamitan pada pelanggan dan karyawannya untuk bertemu Beby yang berada di luar.

"Kamu kenapa, Beb?" Tanya Shania begitu dia berada di hadapan Beby.

"Aku gapapa kok, Shan. Hehe. Kamu lanjutin aja kerjaan kamu dulu. Setelah itu, aku mau ajak kamu pergi makan." Jawab Beby mengalihkan pembicaraan.

Shania menghela nafas kasarnya dan menggenggam tangan Beby. Dia menatap mata Beby yang terlihat sendu.

"Kamu kalau lagi ada masalah, jangan sungkan cerita ke aku ya Beb." Beby tersenyum dan mengangguk. "Iya sayang. Kamu lanjut kerja gih. Aku tungguin disini."

Shania mengangguk pelan dan berjalan masuk kembali ke tokonya. Beby hanya bisa menghela nafas kasarnya saat melihat Shania yang sudah masuk ke dalam tokonya.

"Gue denger, lo udah jadian sama Shania." Beby mendelik mendengar suara tersebut. "Mau apa lo?"

Orang tersebut mengeluarkan suara tawa nyaringnya dan menepuk tangannya.

"Gue yang udah ngejar dia bertahun-tahun aja susah dapetin hatinya. Lo yang kejar dia selama 3 hari langsung bisa dapetin hati dan perhatian dia." Orang tersebut menjeda kalimatnya. "Lo emang hebat. Lo pake pelet apaan sih?!"

Emosi Beby tersulut. Dia turun dari motornya dan mencengkram kerah baju orang tersebut.

"Heh, Sisil! Lo denger ya, kalau lo gak mau gue hajar lebih parah dari kemarin, mendingan cabut!" Ancam Beby dengan tatapa tajamnya.

Orang yang bernama Sisil tersebut mencoba tenang meskipun rasa takut menghampiri dirinya saat melihat tatapan Beby yang lebih tajam dari kemarin.

"Cih! Lo itu cuma bisa ngancem doang tau gak!" Sisil menghempaskan tangan Beby dari kerah bajunya dan membalas tatapan tajam Beby. "Lo itu, gak pantes buat Shania!"

Setelah berkata demikian, Sisil pun pergi meninggalkan Beby yang masih berdiri dengan emosinya yang masih memuncak.

Namun, sebuah sentuhan lembut yang melingkar di pinggangnya membuat emosinya reda seketika. Dia membalikkan wajahnya dan menatap wajah orang yang memeluknya dari belakang.

"Kamu udah selesai?" Tanya Beby.

Orang tersebut hanya mengangguk manja di punggung Beby. Beby tersenyum manis kemudian memegang kedua tangan orang yang masih setia memeluknya itu.

"Aku melihatnya Beb. Si pengganggu itu, tadi membuatmu emosi ya?" Beby menghela nafasnya dan menggeleng pelan. "Gak kok, Shan. Dia mana berani sama aku."

Shania melepaskan pelukannya kemudian memandang Beby yang telah berbalik menghadapnya.

"Kamu jangan dengerin apa kata Sisil ya. Dia itu cuma cemburu karena aku pernah nolak dia dulu." Ucap Shania.

"Kamu tenang aja. Aku gak bakal dengerin apapun kata dia karena aku sangat membencinya." Balas Beby.

Setelah itu, Beby pun menggandeng tangan Shania untuk naik ke motornya. Beby pun meluncurkan motornya ke sebuah kafe yang sudah menjadi langganannya.

***

Beby POV

Aku membawa Shania ke kafe sahabatku, Rona. Dia membuka kafe ini bersama dengan kekasihnya. Tentu saja aku sudah menjadi pelanggan tetap kafe sahabatku yang satu ini dan diapun sudah tahu apa keinginanku.

Between You and Her(Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang