Beby sudah tenang dan kini tertidur dalam pelukan Anin. Sementara jasad Saktia kembali didorong menuju kamar mayat. Sementara Shania telah kembali ke kamar ICU karena masih butuh penanganan serius.
"Om, Tante, aku titip Beby ya? Aku mau ke toilet." Ucap Anin pada kedua orang tua Beby.
"Iya, Nin."
Setelah menggeser pelan tubuh Beby, Anin pun berdiri dan beranjak menuju kamar mandi. Tapi, dia tidak benar-benar menuju kamar mandi. Dia menghampiri ranjang yang berisi tubuh Saktia dan ditaruh di depan kamar mayat.
"Kak Saktia, bangun! Sudah cukup sandiwaranya!" Ucap Anin ketus.
Saktia menggerakkan tangannya dan membuka kain yang menutupi tubuhnya. Dia menunjukkan cengirannya pada Anin yang menatap tajam padanya.
"Hehe. Kok kamu bisa tau?" Tanya Saktia.
Anin memutar malas bola matanya, "Lain kali, kalau mau bersandiwara itu, diliat dulu orangnya."
Saktia menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut, "Kondisi Beby gimana?"
"Masih shock gara-gara denger dokter bilang kalau kak Saktia meninggal." Jawab Anin.
Saktia menghela napasnya, kemudian menatap Anin, "Kamu dari mana bisa tau kalau aku cuma bersandiwara?"
"Dari saat Beby mengatakan kalau dia maafin kamu." Jawab Anin. "Lagian kakak sih. Kan donor darah itu gak bisa meninggal."
"Ya, aku kalau gak ngelakuin kayak gitu, dia gak bakal maafin aku dan balikan lagi dengan Shania." Jeda Saktia, "Aku hanya ingin yang terbaik buat dia dan Shania."
Anin menghela napasnya. Dia tidak habis pikir, di balik tingkahnya yang pecicilan, ternyata Saktia memiliki hati yang baik. Walaupun dulu Saktia pernah mengkhianati persahabatannya dengan Beby, tapi Saktia telah menyesali semua perbuatannya.
"Setelah Beby dan Shania balikan, aku mungkin akan meninggalkan mereka sejauh mungkin." Lanjut Saktia.
"Maksudnya?" Tanya Anin tidak mengerti.
"Aku akan pulang ke kampung halamanku." Jawab Saktia.
"Terus, kuliah kakak gimana?" Anin kembali bertanya.
"Aku telah mengajukan surat pemberhentianku dari kampus itu." Jeda Saktia, "Aku akan meneruskan pendidikanku di kampung halaman."
Anin mengangguk, "Semoga sukses dengan keputusan kakak ya. Selalu ingat sama kita semua disini."
Saktia tersenyum dan mencubit pipi Anin, "Pasti itu mah! Apalagi aku yang gak bisa lupain dedek gemes kayak kamu."
Anin terkekeh pelan atas rayuan yang diberikan oleh Saktia. Setelah itu, Saktia turun dari ranjang dorong tersebut dan memeluk Anin. Air matanya turun tanpa seizinnya.
"Kak Saktia jangan nangis dong! Masa udah tua mewek?" Goda Anin dalam pelukan Saktia.
"Aku titip Shania dan Beby ya, Nin." Ucap Saktia.
Anin mengangguk, "Iya. Aku bakal jagain Beby sama Shania. Kamu tenang aja."
Saktia melepaskan pelukannya terhadap Anin, "Jangan beritahu Beby bahwa aku masih hidup. Biarkan dia mengetahui bahwa aku udah meninggal."
"Kenapa Beby gak boleh tau? Dia pasti seneng." Balas Anin.
Saktia menggeleng, "Aku tidak mau dia semakin sakit karena keberadaanku."
"Bagaimana dengan Shania?" Jeda Anin, "Apakah dia boleh tau?"
Saktia kembali menggeleng, "Cukup cuma aku dan kamu yang tau. Mereka jangan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Between You and Her(Completed)
FanficPerjuangan Shania untuk kembali ke pelukan Beby, dimulai
