Selama Beby dirawat, Shania terus bolak balik ke rumah sakit untuk sekedar menjenguk ataupun mengurus segala keperluan Beby. Meskipun disana ada Anin, tapi Shania tidak merasa canggung sama sekali.
"Gak kuliah lo?" Tanya Anin pada Shania.
"Ada lah! Emang lo, cabut kuliah." Jawab Shania sedikit ketus.
Anin hanya mampu menghela napasnya saat mendengar jawaban dari mulut Shania. Meskipun Shania sangat membencinya, tapi Anin selalu berusaha sabar akan perubahan sikap Shania.
Melihat Shania yang mengurus Beby, Anin pun berjalan keluar, membiarkan Shania mengerjakan semuanya. Anin berdiri di depan pintu ruang inap dari Beby.
"Kamu kenapa gak masuk ke dalam?" Anin membuang pandangannya pada asal suara tersebut dan tersenyum tipis, "Kak Saktia baru dateng?"
Saktia mengangguk, "Iya. Aku baru selesai kuliah." Saktia menggenggam tangan Anin, "Yuk masuk!"
Anin menggeleng pelan, "Aku mau pulang dulu, kak Saktia."
Saktia menghela napasnya kemudian mengangguk seraya melepaskan genggamannya pada tangan Anin. Matanya menatap sendu pada Anin yang semakin menjauh.
Setelah itu, Saktia pun masuk ke dalam ruang inap Beby. Disana sudah ada Shania yang baru saja membereskan piring bekas Beby makan. Dia tersenyum tipis, kemudian berjalan mendekati ranjang Beby.
"Shan, Beby udah sadar?" Tanya Saktia.
Shania tersenyum seraya mengangguk, "Iya. Bahkan dia udah bisa makan, loh Sak."
Saktia mengangguk dan menjatuhkan duduknya di kursi sebelah ranjang Beby. Ditatapnya wajah Beby yang baru saja tertidur. Entah kenapa, perasaan bersalahnya pada Beby kembali muncul. Tangan kanannya terjulur dan menggenggam tangan kanan Beby yang menggantung.
Air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. Dia ingin benar-benar minta maaf pada Beby. Dan saat Beby sadar nanti, dia akan mengakui semua kesalahannya pada Beby.
"Sak, lo ngapa nangis dah?" Tanya Shania bingung.
Saktia mengusap air matanya, "Gak! Gue gak nangis. Mata gue kelilipan."
Shania memutar malas bola matanya, "Elah! Semua orang kalau liat lo juga tau kali lo nangis."
Saktia terkekeh pelan, kemudian membuang pandangannya pada Shania, "Shan..."
"Hmm?"
"Kalau lo mau Beby balik ke lo, inilah saatnya." Saktia menjeda kalimatnya, "Inilah satu-satunya harapan lo untuk ngedapetin dia kembali."
Shania terdiam dan berpikir sejenak. Ucapan Saktia ada benarnya. Inilah harapannya untuk kembali mendapatkan hati Beby. Dia akan menunjukkan kesungguhannya dengan merawat Beby.
"Lo bener, Sak." Shania menatap Beby, "Ini saatnya gue yang akan berjuang."
Saktia tersenyum dan mengangguk, "Semangat!"
Shania membuang pandangannya pada Saktia dan tersenyum sejenak. Kemudian, dia duduk di sofa ruang inap Beby. Karena merasa lelah, Shania pun terlelap di sofa tersebut
***
Shania POV
Aku terbangun dari tidur nyenyakku saat merasakan sebuah usapan lembut pada rambutku. Setelah pandanganku telah sempurna, aku bisa melihat kedua orang tua Beby sedang berada di ruang inap dari Beby.
"Eh Tante!" Jedaku. "Maaf aku ketiduran."
Mama Beby tersenyum ramah, "Tidak apa-apa. Tante tau kamu capek."
KAMU SEDANG MEMBACA
Between You and Her(Completed)
FanfictionPerjuangan Shania untuk kembali ke pelukan Beby, dimulai
