Pagi dengan cepat menyambut siapapun yang siap untuk beraktifitas. Tidak terkecuali Shania. Dia telah bangun dan membantu Ibu Beby di dapur.
Sesekali, mereka terlihat bercanda. Tawa Shania terdengar begitu nyaring saat Ibu Beby menceritakan masa kecil Beby dulu.
"Duh! Duh! Masih pagi udah kedengeran aja suaranya." Shania menoleh pada suara tersebut, "Pagi, Om!"
"Beby belum bangun?" Shania menggeleng pelan sembari tersenyum. "Biar Om panggilin dia deh."
"Eh jagan, Om. Biar aku aja."
Shania meletakkan pisau dapur dan berjalan ke arah kamar Beby. Shania menghela nafasnya saat dia berada di depan kamar Beby.
Shania mengetuk pintu tersebut sebelum masuk ke dalamnya. Terlihat sang pemilik kamar masih setia memejamkan matanya. Shania tersenyum sejenak kemudian menghampiri Beby.
"Beb!" Shania mengguncang tubuh Beby, "Beby, bangun Beb."
Beby menggeliat tanpa berniat bangun. Shania menghela nafas kasarnya saat melihat Beby yang sangat sulit dibangunkan.
Shania tersenyum jail saat sebuah ide melintas di pikirannya. Dia keluar dari kamar Beby menuju kamar mandi. Diambilnya ember dan kemudian diisi dengan air shower panas. Setelah itu, dia kembali ke kamar Beby dan menuangkan air panas itu ke tubuh Beby.
"HUAH! PANAS!" Ujar Beby begitu Shania menuangkan seember air panas.
Tawa Shania langsung pecah melihat Beby yang kocar kacir di kamarnya. Beby langsung menatap Shania yang menertawainya.
"Jadi, ini perbuatan kamu?" Tanya Beby.
"Habisnya kamu dibangunin susah banget." Jawab Shania masih diiringi kekehan ringannya.
"Iseng banget sih!" Gerutu Beby yang langsung mengambil handuk dan melangkah keluar kamarnya.
Shania menggelengkan kepalanya masih diiringi dengan kekehan pelannya.
***
Beby POV
Akibat perbuatan Shania, aku harus bangun lebih awal hari ini padahal aku merasakan pusing.
Entah kenapa, aku merasakan kepalaku berat sekali dari semalam. Beruntung, tidak terjadi kecelakaan saat aku mengantar Shania ke rumahku.
"Pusing banget sih!" Aku memegang kepalaku.
Aku memandang diriku di cermin. Wajahku masih terlihat pucat dan darah segar kembali keluar dari hidungku.
"Kenapa aku harus kena penyakit ini sih?!"
Setelah membersihkan mimisanku, aku pun menyegarkan diriku dengan mandi.
***
Author POV
Beby, Shania dan kedua orang tua Beby serta Boby tampak sedang menyantap sarapan bersama. Namun, keanehan terjadi pada Beby.
Sedari tadi, Beby terus memegangi kepalanya. Entahlah, dia merasa begitu pusing.
"Kamu kenapa, Beb?" Beby menatap pemilik suara tersebut dan menggeleng, "Aku tidak apa-apa, Ma."
"Kamu sakit, Beb?" Kini giliran Shania yang bertanya.
"Gak, Nju. Udah, kamu lanjutin makan gih." Jawab Beby dengan senyumnya.
Shania tampak khawatir melihat Beby yang sepertinya sangat tidak sehat. Wajah Beby pucat sekali. Tidak biasanya Beby seperti ini.
"Beb, kamu gak usah ngampus dulu deh hari ini." Titah Shania.
"Eh? Tugas-tugasku gimana nanti?" Tanya Beby.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between You and Her(Completed)
FanfictionPerjuangan Shania untuk kembali ke pelukan Beby, dimulai
