"Sak, ayo pulang!" Saktia memalingkan wajahnya ke arah Beby dan tersenyum tipis padanya.
"Lo kenapa, Sak? Habis berantem?"
"Gue gapapa, Beb. Ayo kita pulang." Saktia menarik tangan Beby untuk meninggalkan tempat tersebut.
Beby tidak bisa berbuat banyak saat Saktia menarik paksa dirinya menuju parkiran.
***
Shania menghempaskan tubuhnya ke sofa. Jadwal kuliah yang cukup padat membuat tubuhnya merasakan lelah yang amat sangat.
"Kamu udah pulang, Shan?"
Shania menghadap ke arah pemilik suara tersebut dan tersenyum manis padanya.
"Mama gak ngantor?"
"Gak. Hari ini, Mama ambil cuti."
Sang Ibu pun berjalan menghampiri sofa dan duduk di samping putrinya.
"Capek ya?"
"Iya nih, Ma. Jadwal kuliah lagi padat-padatnya."
"Uuu... Kasian. Kamu tunggu disini ya, biar Mama buatin kamu susu."
Shania mengangguk dan menyalakan televisi untuk menonton acara favoritnya.
Sembari menonton televisi, pikirannya tidak lepas dari gadis yang menabraknya tadi pagi.
"Kalau dipikir-pikir, dia boleh juga sih." Batin Shania.
"Kok gue jadi mikirin dia sih?!" Shania menggelengkan kepalanya berusaha membuang jauh-jauh pikirannya tentang gadis yang menabraknya tadi pagi.
"Kamu kenapa, nak? Kok keliatan gak mood gitu?"
Shania terkesiap saat mendengar suara sang Ibu yang telah kembali duduk di sampingnya.
"Gapapa kok, Ma. Mungkin faktor kelelahan aja."
Setelah berkata demikian, Shania dan sang Ibu pun diam. Suasana mendadak hening. Hanya suara televisi yang terdengar.
Shania meraih susu yang telah dibuat Ibunya tersebut dan meminumnya seteguk.
"Kamu, lagi mikirin seseorang ya?" Ucapan sang Ibu sukses membuat Shania menyemburkan susu yang telah diminumnya tersebut.
"Ih kamu mah. Tuh, jadi jorok kan!"
"Maaf, Ma. Shania nggak sengaja."
Shania membantu Ibunya untuk membersihkan susu yang disemburkannya.
***
Beby dan Saktia baru saja sampai di rumah Beby. Hari ini, Beby ingin Saktia menginap di rumahnya. Tentu sudah dengan persetujuan kedua orangtuanya.
"Kamu mandi gih. Biar aku siapin obatnya." Ucap Beby.
Saktia hanya mengangguk patuh. Dia sedikit kecewa sebenarnya dengan Beby yang tidak datang menolongnya.
Dengan langkah gontai, Saktia melangkahkan kakinya ke kamar yang telah dipersiapkan untuknya.
***
Saktia POV
Hari ini, mungkin adalah hari yang tersial bagiku. Bertemu dengan kedua pembully tersebut cukup membuatku kewalahan.
Tapi, yang bikin aku kecewa adalah, sahabatku sendiri yang bahkan tidak datang untuk menolongku. Entah apa yang dipikirkannya saat itu setelah meninggalkanku sendiri.
Helaan nafas berat terdengar dari mulutku. Aku meringis saat merasakan kesakitan akibat bekas luka yang disebabkan oleh dua pembully tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between You and Her(Completed)
أدب الهواةPerjuangan Shania untuk kembali ke pelukan Beby, dimulai
