"jadi ini aja yang penting??"
"iya Veranda. Aku jamin kalau kamu ngasih makan Naomi dengan makanan yang ku anjurkan dengan teratur, pasti gak lama lagi dia sembuh kok"
Veranda menganguk mendengar omongan Hanna melalui via telfon. Tangannya tampak antusias mengambil beberapa makanan kedalam keranjang belanja bersama Bi Sisil yang ikut membantunya.
"tapi kamu juga harus ingat buat bawa Naomi terapi biar gak makin parah cederanya. Satu lagi, obatnya harus rajin diminum biar gak ngerasa nyeri lagi dia" tambah Hanna.
"Iya. Makasih yah Han buat bantuannya, dan maaf juga udah ganggu kamu sepagi ini" Veranda mendadak tidak enak hati. Ia baru saja menggangu seseorang di jam setengah 6 pagi demi mencari informasi makanan layak konsumsi untuk mempercepat penyembuhan Naomi. Terniat emang!
"santai aja kali Ve, lagian aku biasa bangun jam segini buat sarapan suamiku juga" ucapan Hanna membuat Veranda terlihat lega sekarang.
"aku tutup dulu yah Han. Sekali lagi terima kasih udah mau bantu"
Dan percakapan singkat itu pun selesai, Veranda dan bi Sisil langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
***
Matahari mulai meninggi. Memancarkan cahaya hangat hingga merengsak masuk kedalam kamar hingga memaksa seorang gadis yang masih bergelut dengan selimutnya harus bangun. Dia adalah Naomi.
Naomi terduduk menyandar pada headboard ranjangnya, sedikit melakukan peregangan dengan melebarkan tangannya lebar-lebar dan mulai menghirup oksigen dalam-dalam.
"Astaga!"
Naomi memekik kaget ketika melihat gips yang berada dikakinya yang telah berubah menjadi kanvas.
"kurang kerjaan sekali buat seperti ini di kaki saya!" kesal Naomi.
Namun kekesalan Naomi tak bertahan lama ketika melihat gambar-gambar yang ada di kakinya, justru dia kini menggulum senyum tipis sekarang.
Ada gambaran wajahnya yang sebenarnya tidak ada miripnya sama sekali dengan Naomi, namun tambahan taring dan tanduk di sketsa wajahya entah mengapa terlihat lucu bagi Naomi. Lukisan wajah Naomi dengan berbagai macam ekspresi mulai dari tertawa, cemberut, marah dan sebagainya juga tertuang pada gips itu. Belum lagi gambar lainnya seperti sebuah kamus besar dengan cover bernamakan namanya sebagai gambaran dari gaya bahasanya yang baku layaknya Kamus Berjalan. Semua gambaran itu mengisi kaki kiri Naomi.
Senyum Naomi semakin mengembang ketika ia melihat sepatah kata yang terbilang sederhana namun menghangatkan hatinya.
Get well soon, Shinta Naomi..
-xoxo
Naomi tertawa kecil melihatnya, luntur sudah kekesalam dirinya hanya karena hal sepele seperti ini. Tangannya mengusap sepatah kalimat itu dengan senyum yang tiada habisnya, bahkan dia sendiri sepertinya sangat menyukai komik aneh di kakinya.
"orang tua tidak sadar umur. Dasar Veranda" gumam Naomi kecil.
Tak ingin kehilangan moment, Naomi langsung meraih ponselnya dan membuka aplikasi kamera. Dia ingin mengabadikan hal itu sebelum gips dikakinya akan di ganti atau di lepas nantinya.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Suara bunyi dari kamera memenuhi kamar, bersama dengan suara kekehan kecil dari bibir Naomi.
Cekrek
Cekrek
Ceklek
"selamat pagi Nao.....mi"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Step Mother
Hayran KurguHidup Naomi awalnya baik-baik saja namun semua berubah ketika sang Papa mengenalkan calon Mama barunya. Banyak pertentangan yang dialami diumurnya yang ke17 dan dari semua pertentangan dialaminya, ada satu hal yang membuatnya merasa menjadi manusia...
